Pengangkatannya untuk memangku jabatan tersebut, merupakan kesepakatan antara kaum Ansar dan kaum Muhajirin dalam musyawarah mereka di Tsaqifah Bani Saidah. Musyawarah itu sendiri diprakarsai oleh kaum Ansar secara spontan sehari setelah wafat Rasulullah saw. sikap spontanitas mereka ini menunjukkan mereka lebih memiliki kesadaran politik daripada kaum Muhajirin untuk memikirkan siapa pengganti Rasul dalam memimin umat Islam. Bahkan ketika Umar bin Khattab mendengar wafatnya Rasul, tidak yakin hal itu terjadi.
Pemerintahan Umar bin Khattab (13-23 H). sebagaimana Abu Bakar, Umar bin Khattab begitu di baiat atau dilantik menjadi khalifah menyampaikan pidato penerimaan jabatannya di masjid Nabi di hadapan kaum muslimin
Pemerintahan Utsman bin Affan (23-35 H). Sesuai dengan pesan Umar, setelah beliau wafat pada tahun 23 H dan usai pemakamannya, maka mereka ahl al-syura segera mengadakan pertemuan dirumah Al-Miswar bin Makhramah. Riwayat lain menyatakan di gedung Baitul Mal, dan ada pula yang mengatakan di rumah Aisyah atas izin daripadanya. Mereka yang berkumpul itu hanya lima orang ditambah Abdullah bin Umar yang tidak punya hak memilih dan dipilih. Karena Talhah bin Zubair waktu itu tidak ada di Madinah.
Pemerintahan Umar bin Khattab (13-23 H). sebagaimana Abu Bakar, Umar bin Khattab begitu di baiat atau dilantik menjadi khalifah menyampaikan pidato penerimaan jabatannya di masjid Nabi di hadapan kaum muslimin
Pemerintahan Utsman bin Affan (23-35 H). Sesuai dengan pesan Umar, setelah beliau wafat pada tahun 23 H dan usai pemakamannya, maka mereka ahl al-syura segera mengadakan pertemuan dirumah Al-Miswar bin Makhramah. Riwayat lain menyatakan di gedung Baitul Mal, dan ada pula yang mengatakan di rumah Aisyah atas izin daripadanya. Mereka yang berkumpul itu hanya lima orang ditambah Abdullah bin Umar yang tidak punya hak memilih dan dipilih. Karena Talhah bin Zubair waktu itu tidak ada di Madinah.
Ketika jalannya musyawarah tidak lancar, maka Abdurrahman bin Auf menempuh caranya untuk memperlancarnya dengan mengimbau mereka agar bersedia mengundurkan diri. Ia mengatakan : “ siapakah diantara kamu yang dengan sukarela mengundurkan diri dan menyerahkan masalah ini kepada yang lebih ahli?” ternyata tak seorang pun yang memenuhi ajakan itu. Kemudian Abdurrahman sendirj menyatakan dirinya mengundurkan diri dan tidak bersedia dicalonkan untuk jabatan itu. Meski begitu tak ada yang mengikuti jejaknya.
Pemerintahan Ali bin Abi Thalib (35-40 H). akhirnya Ali Bin Abi Thalib dikukuhkan menjadi khalifah keempat menggantikan Usman bin Affan yang mati terbunuh di tangan kaum pemberontak. Ali adalah saudara sepupu (anak paman) Nabi Muhammad saw. dan suami dari puteri beliau, Fatimah. Ia yang pertama sekali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, ia selalu mengajak Ali untuk memusyawarahkan masalah-masalah penting.
Pemerintahan Ali bin Abi Thalib (35-40 H). akhirnya Ali Bin Abi Thalib dikukuhkan menjadi khalifah keempat menggantikan Usman bin Affan yang mati terbunuh di tangan kaum pemberontak. Ali adalah saudara sepupu (anak paman) Nabi Muhammad saw. dan suami dari puteri beliau, Fatimah. Ia yang pertama sekali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, ia selalu mengajak Ali untuk memusyawarahkan masalah-masalah penting.
Demikan pula Umar bin Khattab tidak mengambil kebijaksanaan atau melakukan tindakan tanpa musyawarah dengan Ali. Ia dikenal sebagai orang alim, cerdas dan taat beragama. Maka ketika Umar menjelang wafat, ia memasukkan Ali ke dalam anggota badan musyawarah pemilihan khalifah. Tapi yang terpilih adalah Usman.
Namun ia tetap mentaati keputusan itu dan membaiat Usman serta mendampinginya dalam menjalankan roda pemerintahan. Usman pun pada masa permulaan jabatannya dalam baanyak perkara selalu mengajak Ali dalam permusyawaratan. Ali juga yang tampil membela Usman ketika berhadapan denagn kaum pemberontak dan menempatkan dua orang putranya di pintu gerbang rumah Usman untuk menjaganya.
Reff : Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Ul-Press Jakarta, 1986, hlm.92
Reff : Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Ul-Press Jakarta, 1986, hlm.92


No comments:
Post a Comment