Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Membaca "Kesehatan Akal" Rocky Gerung dalam Menafsirkan Makna Fiksi

Sportlite.id
15.2.19, 7:38 AM WIB Last Updated 2019-02-16T04:00:02Z


Saya tertarik untuk ngebahas ini lebih rinci agar kita makin bingung. Fiksi, secara bahasa dan makna yang disepakai oleh Masyarakat dunia adalah sesuatu yang mengacu pada sebuah "Hasil Karya" rekaan atau khayalan manusia. Atau secara umum "Fiksi" diartikan sebagai Cerita Bohong atau Cerita Khayalan atau mengada-ada.

Dalam KBBI, ada tiga definisi untuk fiksi: cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya); rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan; pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Sementara fiktif didefinisikan: bersifat fiksi, biasanya hanya terdapat dalam "khayalan".

Namun kali ini, coba kita ikuti pengertian Fiksi versi Rocky Gerung, tapi sebelum itu, saya coba mengajukan pengertian "Fiksi" yang mungkin agak berbeda. Mari kita coba maknai bahwa "Fiksi" adalah "Daya Pikir" atau Imaginasi atau Khayalan yang bersifat menerka-nerka. Sementara dari pengertian ini, kita sepakati bahwa "Fiksi" adalah "Gagasan" itu sendiri, bahwa fiksi adalah ide-ide yang ada di alam pikiran manusia sebelum ide dan gagasan itu dibuktikan secara empiric.

Dalam bahasa yang sederhana, Fiksi saya artikan sebagai suatu hal yang "Bisa saja dibuktikan secara empiris, bisa saja tidak pernah dibuktikan kebenarannya'. Status dan kedudukan "Fiksi" dalam hal ini tidak tepat jika disebut "Dusta/bohong" juga tidak tepat jika disebut "Fakta".

Maka, sementara Rocky Gerung saya kira tepat menyebut bahwa "Fiksi" bukan sebuah Antonim dari "Fakta".

Fakta dan Fiksi dua hal yang berbeda tapi memang saling berkaitan. "Fakta" diartikan sebagai sebuah "informasi" yang benar-benar terjadi, bisa dibuktikan kebenaranya dan kebenaran itu diakui. Dalam contoh sederhana untuk menangkap pengertian Fiksi dan Fakta ini misalnya kalimat pernyataan seperti :

- "Gula itu rasanya manis" pernyataan ini bisa disebut sebagai "Fakta", Sudah terbukti dan diakui kebenaranya.

- "Bisa saja rasa Gula itu rasanya manis" pernyataan ini bisa disebut sebagai "Fiksi" karna masih berada dalam alam pikiran seseorang dan dia berusaha menerka-nerka soal "Rasa" gula tersebut sebelum dia membuktikannya atau tidak membuktikannya.

- "Gula itu rasanya Pahit". Ini termasuk dalam kategori "FIKTIF" menyajikan informasi yang tidak sesuai dengan seharusnya, atau menyampaikan informasi yang bersifat menerka-nerka atau menghayal.

"Fiktif" dalam penggalan kalimat tersebut hanya berlaku untuk sebuah Benda atau Kata Kerja yang disepakati keberadaannya sebagai Subjek dan Objek dan pernah dibuktikan secara Empric. atau dalam contoh lain misalnya "Surga" atau "Neraka" adalah kata Benda yang menunjukan arti sebuah Tempat, disepakati dan diakui keberadaanya oleh sebagian orang namun belum pernah dibuktikan keberadaannya secara Empiric. Hal-hal yang tidak pernah atau belum pernah dibuktikan keberadaanya secara empiris tidak bisa disebut sebagai Fiktif, namun bisa disebut sebagai "Fiksi".

Dari contoh kalimat tersebut, maka "Fiksi" berada diatara "Fakta" dan "Fiktif", bisa jadi salah satu diataranya, bisa jadi adalah keduanya.

Contoh lain, misalnya sebuah "Konsep" atau "Metode" dari sebuah Gagasan adalah termasuk "Fiksi", selama gagasan atau "Konsep" tersebut tidak diaplikasikan atau tidak diterapkan kedalam sebuah "Tindakan" maka selamanya akan menjadi "Fiksi".
Dari keterangan diatas yang menambah kebingungan kita, saya rasa kita mempunyai landasan dasar untuk mengikuti pengertian "Fiksi" versi Rocky Gerung diluar (KBBI).

RG memberikan makna bahwa "Fiksi" adalah "sesuatu yang membangkitkan imajinasi -- ILC ". kalau dari pengertian sebelumnya tadi bahwa "fiksi" adalah "Imajinasi" itu sendiri, sementara RG menyimpulkan bahwa "Fiksi" adalah "Sesuatu yang dapat membangkitkan Imajinasi". kemudian, RG dengan cepat menyimpulkan bahwa Kitab suci adalah "Fiksi" atau "Sesuatu yang membangkitkan Imajinasi".

Dengan menggunakan pengertian tersebut, RG memberikan Contoh misalnya orang akan membayangkan (Mengimajinasikan) bagaimana Keindahan Sorga dan Keganasan Neraka. Proses "mengimajinasikan atau membayangkan" adalah tahapan untuk "Menyimpulkan" Imajinasi. Dan Sesuatu yang bisa membangkitkan Imajinasi menurut RG adalah "Fiksi".

Untuk memahami ini benar atau tidak secara Logika versi RG, mari kita bentuk contoh seperti dalam Silogis berikut :
-Fiksi adalah sesuatu yang membangkitkan Imajinasi
-Kitab Suci itu membangkitkan Imajinasi
-Kitab Suci itu Fiksi (Tepat)

Dari Silogisme tersebut, kita bisa melihat perubahan makna "Fiksi" yang tadinya merupakan "Imaginasi" itu sendiri, mejadi "Hal yang dapat memicu imajinasi". Imajinasi atau Khayalan dan Rekaan disini tidak termasuk dalam istilah "Fiksi",

Maka, "Karya Fiksi" dapat diartikan sebagai "Sebuah karya hasil dari proses penyimpulan Imaginasi". Kemudian untuk selanjutnya kita coba merumuskan istilah "Karya Fiksi" ini kedalam Silogis
-Karya Fiksi adalah sebuah karya hasil dari proses penyimpulan imajinasi
-Kitab Suci mampu menyimpulkan imajinasi
-Kitab Suci bukan sebuah karya dari proses penyimpulan imajinasi
-Maka Kitab Suci bukan Karya Fiksi.

Dari sini, jika saya menggunakan term RG, sementara saya menarik kesimpulan bahwa Kitab suci secara Logika memang Fiksi, tapi bukan sebuah Karya Fiksi.
Jika mengacu pada term ini, Fiksi dalam pandangan RG tidak berkonotasi negatif melainkan positif. Karna selama ini kata "Fiksi" dimaknai sebagai hal negative karna rekat dengan istilah "Fiktif" atau (Suatu Kebohongan)

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan