![]() |
| https://harirsilk.files |
Menurut fereire pendidikan bertuajuan membebaskan individu. Lebih lanjut Freire menjelaskan
"Suatu bentuk pedagogi yang harus diolah bersama, bukan untuk the oppressed (sebagai individu maupun anggota masyarakat secara keseluruhan) dalam perjuangan tanpa henti untuk merebut kembali kemanusiaan. Pedagogi ini menjadikan penindasan dan sebab sebabnya sebagai bahan refleksi ini akan lahir perlunya terlibat dalam perjuangan bagi kebebasanya. Dalam perjuangan itu pedagogi akan dibuat dan diperbaiki" (1972:33)
Dalam pendidikan individu diajak untuk menetukan bagaiaman masa depanya dapa diatur secara otonom karena menurut. Pemikiran Freire mengenai pendidikan yang diatur secara otonom oleh individu dipengarui oleh filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre, pengaruh sartre sendiri dalam pemikiran Paulo Freire terlihat bagaiamana dia menempatkan kaum tertindas dalam dunia pendidikan agar menjadi subjek yang mandiri yang kemudian melakukan perubahan. Selain itu Freire juga dipengarui oleh pemikiran marxis meskipun dia bukan seorang marxis tulen dia melihat pendidikan yang banyak diterpakan pada saat ini masih banyak mnerapkan gaya pendidikan yang konservati/kolot, Freire menyebut gaya pendidikan seperti ini merupakan gaya pendidikan gaya bank. Ciri ciri pendidikan gaya bank diantaranya sebagai berikut:
- Guru mengajar murid diajar
- Guru berfikir murid difikirkan
- Guru dianggap sebagai maha tau
- Guru sebagai subjek murid sebagai objek
- Tidak ada proses dialogis antara murid dan guru.
- Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak mengerti apa apa
- Guru memilih bahan pelajaran, murid menyesuaikan
- Guru melakukan, Murid membayangkan
- Guru memilih, Murid menyetujui
- Guru memanfaatkn jabatanya, untuk menghalangi kebebasan
Dalam pendidikan sendiri juga harus bisa melakukan pembebasan karena dengan penerapan pendidikan gaya bank seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya sudah terjadi dehumanisasi. Dehumanisasi sendiri bersifat mendua karena selain hal ini terjadi pada kaum tertindas karena hak untuk berpikir dan berbicara dibungkam juga terjadi pada kaum penindas karena kaum penindas mngingkari hati nuraninya (menurut bahasa Freire). Freire memberikan alternative untuk menandingi pendidikan gaya bank yaitu pendidikan hadap masalah (problem possing education).
Lebih lanjut Freire menjelaskan mengani gaya pendidikan hadap masalah (Problem Possing education) bahwa
"Bagi yang benar benar mengabdi (pada pembebasan) harus menolak konsep pendidikan gaya bank secara menyeluruh, menggantikanya dengan konsep tentang manusia sebagai mahluk yang sadar akan dunianya. Mereka harus meninggalkan tujuan pendidikan sebagai usaha tabungan dengan menggantikanya dengan penghadapana pada masalah masalah manusia dalam hubunganya dengan dunia" (1972:66)
Dalam pendidikan hadap masalah murid dan guru diajak untuk melihat masalah sehari hari dan bersama sama merefleksikanya kemdian melakukan dialog dua arah untuk memecahkan masalah yang sedang dibahas.
Pendidikan yang sangat digambar gemborkan freire adalah bagaimana pendidikann itu dijalankan secara mandiri oleh masyarakat, dilaksanakan oleh masyarakat dan dinikmati masyarakat. Dalam hal ini Freire menolak intervensi yang dilakukan pemerintah, Freire menganggap pemerintah jika turut campur hanya akan menancapkan hegemoninya (penjinakan ideologi) dan membuat masyarakat dekanden pada pemerintah. Turut campurnya pemerintah sendiri dikhawatirkan oleh Freire hanya sebagai bentuk dari kemurahan hati palsu. Jika pemerintah memang harus tpaksa turut campur dalam pendidikan itu hanya sebatas pada peranya sebagai Promotionalism (pendamping) bukan sebagai Asistensialism (turut mencampuri khusunya mengatur dalam hal pendidikan).
Pendidikan menurut Freire juga harus menumbuhkan kesadaran kritis. Freire membagi jenis jeni kesadaran yang ada dalam masyarakat antara lain :
- Kesadaran magis: pada tahap ini masyarakat menganggap segala sesuatu yang terjadi adalah given (merupakan takdir yang tidak bisa diubah). Pada tahap ini masih bersikap fatalis dan menyerahkan semua pada yang kuasa.
- Kesadaran naif: pada tahap ini mulai tumbuh sikap reflektif akan tetapi masih pada tataran pada pemenuhan tujuan pribadi hal ini terjadi disebabkan oleh nilai nilai yang ditanamkan oleh kaum liberal. Dalam tahap ini pndidikan outputnya hanya sebagai pemenuhan akan kebutuhan tenaga kerja
- Kesadaran kritis: pada tahap ini kesadaran yang tumbuh mulai dari reflektif sampai melakukan perubahan khususnya sadar akan ketimpangan yang terjadi dalam pendidikan dan masyarakat.
Dalam perubahan yang diharapkan Freire sangat menekankan peran kaum tertindaslah yang menjadi aktor.
Lebih lanjut Freire menjelaskan, mengenai peran kaum tertindas sebagai aktor perubahan
"...Pelajaran dan praktik ini harus datang dari kaum tertindas sendiri atau dari mereka yang sunggu sungguh berpihak pada mereka" (1972:13)
Dalam perubahan yang terjadi yang terjadi bukan tukar nasib, artiinya si tertindas menjadi penindas begitu pula sebaliknya. Jika kaum tertindas sudah melakukan perubahan akan tetapi perubahan itu justru hanya sebagai siklus yang berputar, maka kaum tertindas ini akan bertransformasi menjadi penindas kecil. Perubahan tersebut lebih diakibatkan oleh diadopsinya nilia nilai yang sudah didapatkan dari penindas (the oppressed).
Perubahan yang diharapkan Freire sendiri adalah perubahan yang bisa membebaskan kaum tertindas karena sudah mengalami dehumanisasi yaitu berupa budaya bisu danpasif yang ditanamkan oleh penindas. Kaum penindas juga harus dibbaskan dalm proses perubahan karena juga telah mengalami dehumanisasi karena telah mnafikan hati nuraninya.
- [message]
- Sumber Bacaan.
- Freire, Paulo. 2008. PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS. Jakarta: LP3ES
- Suharto, Toto. 2012. Pendidikan Berbasis Masyarakat. Yogyakarta. LKIS


No comments:
Post a Comment