Sejarah berbicara bahwa peran daripada mahasiswa sangat vital karena memang tombak perubahan digagas dan direfleksikan oleh mahasiswa sehingga membawa negara kita menuju kearah perubahan dan menjotos penguasa yang otoriter.
Dari sejarah kita mengetahui bahwa mahasiswa berperan besar dalam terbentuknya tatanan masyarakat. Mahasiswa sejak dulu dikenal akan keberaniannya menentang segala bentuk ketidakadilan dan selalu mengkritik keras penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya.
Dari sini kita dapat melihat fungsi daripada mahasiswa sebagai pelopor perubahan yang sudah seyogyanya oleh mahasiswa hari ini direnungkan dan direfleksikan kembali sehingga dapat menemukan jati diri daripada gerlar ‘maha’, kemudian hal menarik untuk dibicarakan juga muncul bahwa perguruan tinggi ada yang menggambarkan sebagai intrumen untuk bermain layaknya sebagai pemeran FTV, ada juga yang menilai mahasiswa seringkali membuat onar ditengah masyarakat melalui aksi demonstrasi dan lain sebagainya, sehingga yang terjadi indoktrinasi mengurung sebagian mahasiswa mati ditengah peradaban, mereka dituntun dan dicekam dengan sebuah sistem yang memasarkan kaum intelektual untuk melupakan peran fungsinya, sikap kritis dan patologi yang memenjarakan nalar mahasiswa berhasil dihegemoni oleh penguasa.
Aksi demontrasi suatu hal yang relevan hingga hari ini direfleksikan oleh mahasiswa, karena memang ‘ultimum remedium’ adalah demontrasi ketika penguasa tidak memihak kepada rakyat. Indikasi ketidakadilan lahir dari rezim yang menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan, maka demontrasi merupakan salah satu bentuk responsif daripada mahasiswa yang tersadarkan dalam menyikapi beberapa kebijakan yang memberatkan rakyat dan memenjarakan rakyat dalam kesengsaraan.
“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”.Milan kundera
Berangkat dari perkataan Milan Kundera kita bisa mendefinisakn bahwa buku adalah instrumen penting untuk bagaimana dapat mengembangkan nalar masyarakat dan merubah sutau bangsa melalui peradaban literasi, terutama masyarakat intelektual (mahasiswa) yang berkewajiban untuk membaca sehingga sumbangsih pemikirannya dapat memberikan kontribusi terhadap negara, kandang mahasiswa tentu dijadikan sebagai tempat yang strategis untuk bagaimana kegiatan literasi berjalan dan membudaya dikalangan mahasiswa, namun dalam realitasnya jauh daripada ekspektasi yang hari ini kita rasakan.
Sejalan dengan peradaban literasi mencuat dan mulai sirna dikalangan mahasiswa kegiatan membaca meredup, budaya diskusi semakin degradasi, kegiatan-kegiatan menulis mati ditengah perkembangan.
Kita bisa melihat bagaiaman sudut perpustakaan sepi presentasi pengujung perpustakann semakin miris, bukan hanya itu sekedar memegang atau mengolkesi buku saja mulai tidak terlihat, berarti hal ini dapat kita simpulkan bahwa mahasiswa tidak menganggap bahwa buku sebagian terpenting dari aktivitas kehidupannya, aktivitas yang seringkali dilakukan hari ini oleh mahasiswa hanya sekedar ngopi sambil ngerumpi, main game, atau bergaya dengan kehedonisan. Kemudian bahkan baru-baru ini terlihat dimedia mahasiswa menciptakan prestasi terburuk dengan sipat anarkis antar mahasiswa dengan membuat keributan ditengah tempat pendidikan tinggi.
Maka untuk menghindari itu semua dan mengembalikan jati diri mahasiswa harus dimulai dengan merawat nalar melalui literasi, mahasiswa harus memegang peranan literasi untuk bagaimana menciptakan masyarakat intelektual yang bermoral.
Jika berbicara mahasiswa hari ini agak sedikit membingungkan orientasinya, entah faktor apa yang kemudian dapat membuat mereka keblinger dalam menjalankan tugasnya, kita lihat dari seluruh jumlah mahasiswa yang ada disuatu universitas dalam segi membaca, menulis, diskusi masih terbilang minim jumlahnya.
Padahala seharusnya literasi sudah sepantasnya menjadi suplemen utama bagi mahasiswa untuk mengembangkan daya nalar, pola pikir, dan sikap kritisnya. Karena disisi lain literasi dapat memerdekakan nalar mahasiswa melalui argumentatif dan sikap kritis yang mereka genggam, kemudian literasi juga akan menghidupkan api giroisasi pergerakan intelektual, melalui karya-karya ataupun yang membuat mereka meraih prestasi positif. Literasi yang terus dibudayakan mampu membuat produktivitas mahasiswa meningkat. Selain, tentu budaya literasi yang telah mendarah daging dapat dijadikan pijakan atau parameter dalam menentukan arah kehidupan mahasiswa, akan tetapi mereka lebih senang jika kuliah digunakan untuk sebuah tempat bermain. Dimana aktivitas mahasiswa hari ini datang ke-kampus hanya sekedar ngopi di kantin sambil memainkan Game di Gedgetnya.
Disamping itu tidak sedikit mahasiswa yang bergerombolan untuk mengisi suatu tempat yang kosong hanya untuk bergosip, arisan, pacaran, sambil tertawa berbahak-bahak tak jelas tujuannya apa.
Kebiasaan yang buruk melekat pada diri mahasiswa hari ini menimbulkan kekhawatiran untuk regenerasi kedepannya dilihat dari budaya membaca dan diskusi yang hampir luntur, bahkan hal ini akan mematikan gerakan mahasiswa, yang esensinya adalah pelopor sebuah perubahan dalam masyarakat, jika berbicara mahasiswa terdahulu lingkungan kampus dipenuhi dengan lingakran-lingkaran diskusi dan disetiap sudut tempat diramaikan dengan membaca, implementasi daripada hal tersebut membawa masyarakat keluar dari cengkraman rezim yang otoriter, menoreh kebelakang gerakan dari tahun 1908, 1928,1945, 1965, dan puncaknya pada tahun 1998 gerakan mahasiswa membawa negara indonesia keluar dari orde baru dan memasuki ke era reformasi, ini adalah pencapaian mahasiswa terdahulu, yang kini diwariskan gerakannya kepada kita sebagai generasi penerus.
Lantas bagaimana dengan gerakan mahasiswa sekarang” yang kegiatannya tidak keluar dari tembok kampus dan acuh terhadap gejala-gejala yang terjadi dimasyarakat,” mungkin ada beberapa orang/organisasi yang gerakannya masih hidup dan duduk bareng bersama rakyat kecil, inilah yang diidentikan dengan nama aktivis,tentu membawa misi perubahan didalam tubuh masyarakat.
Jika mahasiswa hari ini sadar dengan peran fungsinya yang sebagaimana tealah diwariskan oleh mahasiswa terdahulu, tentu hal ini menjadi cerminan dalam sebuah gerakan, potensi yang dimiliki mahasiswa yang jiwanya masih idealis tidak sepantasnya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara, mahaiswa tentunya bukan seperti siswa yang tugasnya hanya belajar dibangku perkuliahan, namun mahasiswa harus dapat menyelesaikan persoalan/gejala yang terjadi dimasyarakat. sebagaimana dengan fungsi mahasiswa yaitu Agent of Change,social control,Iron Stock dan Moral Force,yang samapi hari ini keempat fungsi tersebut belum dapat diimplementasikanoleh oleh seleuruh mahasiswa, akan tetapi tidak menutup kemungkianan jika gerakan budaya memabca dan diskusi hidup dalam tubuh mahasiswa, maka mahasiswa akan menemukan jati dirinya.
Namun yang disayangkan budaya diskusi yang dijadikan sebagai ajang bertukar pikiran mulai redup, padahal dengan berdiskusilah kita akan mendapatkan wawasan baru yang tidak ada dalam tembok kelas, akan tetapi dikarenakan pola pikir mahasiswa yang hanya mengandalkan bangku perkuliahan dan mengejar nilai/IPK, tidak sedikit dari mahasiswa kehilangan araha dalam mengemban nama Maha!,”kekampus hanya duduk dibangku memainkan gadzjet beres mata kuliah pulang lagi” apakah ini yang dinamakan mahasiswa, kemanakah nama Maha yang digadang-gadang sebagai perubahan, miminjam kata-kata puisi ws Rendra, “maka nama Maha terkurung dalam sangkar jadilah ia siswa,” memang jika kita kaitkan dengan puisi rendra tidak pantas mahasiwa hari ini mempunyai gelar maha karena hanya berkutik ditembok perkuliahan,.
Budaya membaca dan diskusi tidak lagi dijadikan kegiatan mahasiswa, padahal tempat-tempat yang ada dikampus sangatlah memadai untuk saling bertukar pikiran, patologi yang melekat dalam diri mahasiswa didorong oleh arus globalisasi atau modernisasi yang berhasil memperbudak mereka, seperti halnya kecanduan akan permaian handphone,atau keasyikan mengotak-atik laptop, sehingga lupa akan jati diri mahasiswa, namun disamping itu mahasiswa lebih senang dengan budaya kehedonisan atau hanya sekedar pamer harta, ini semua berimbas pada lingkungannya, mahasiswa baru yang belum lebih mengenal dunia kampus akan tergerus oleh sikap senior-senior mereka yang tidak jelas itu, kalau misalkan diajak diskusi pengetahuan mereka itu miskin karena budaya membaca mereka ganti dengan budaya khedonisasian
berkenaan dengan tekhnologi yang canggih dan telah berhasil mempengaruhi untuk memperbodoh mahasiswa yang telah menyalahi kegunaan tekhnologi tersebut, ini adalah sebuah terobosan yang dimana kemalasan akan mereka dapatkan, seperti hal-nya ketika mahasiswa disuruh untuk membuat makalah dengan cara berdiskusi dan referensinya harus diambil dari buku, akan tetapi mereka menyelesaikan tugas tersebut dengan cara copy paste makalah dari internet, bahkan ketika presentasi mereka tidak tau subtansi apa yang mereka sampaikan, dan akhirnya ketika ada pertanyaa dari yang lain disitu matilah mereka karena tidak paham terhadap apa yang disampaikan, maka dari itu cara-cara instanlah yang mereka pilih, bukan dengan cara diskusi untuk menyelesaikan persoalan.
Diskusi bukan hanya budaya yang diturunkan secara turun temurun dari mahasiswa terdahulu,tetapi diskusi merupakan aspek penting yang bisa kita gunakan untuk mengisi waktu luang, ketimbang kita harus meghabiskan waktu berdiam diri atau hanya sekedar ngumpul kebo, jiwa intelektual akan mucul ketika seseorang sering membaca dan beradu argumen disuatu forum diskusi, sikap kritis tentunya harus dimiliki mahasiswa dalam menganalisa ketika ada persoalan baik di kampus mapaun diluar kampus, jika memang mandset kita telah dibenturkan dengan dunia diskusi tidak menutup kemungkinan regenerasi akan mengikuti jejak langkah para terdahulunya,
Ketika ada beberapa organisai yang menyelenggarakan forum diskusi disitulah akan kelihatan seberapa banyak minat mahasiswa terhadap pentingnya diskusi, disisi lain secara empiris memang kebanyaka mahasiswa acuh ketika ada forum diskusi, mereka lebih senang untuk pulang kekosan daripada ikut serta dalam forum, tentu paradigma terhadap budaya diskusi harus segera ditangani oleh mahasiswa yang sadar, dimulai dari budaya membaca yang harus ditingkatkan, kalau misalkan disetiap sudut kampus dipenuhui dengan orang-orang yang membaca, tidak menutup kemungkinan lingkungan kampus akan hidup dengan lingkaran-lingkaran diskusi, inilah yang di cita-citakan oleh mahasiswa yang sadar.
Ada saja hal yang unik ketika seseorang membaca ditengah kerumunan orang banyak, seperti cemoohan,ejekan,so pintar dan lain-lain yang didapatkanya, padahal yang mencibir orang sedang membacalah yang tidak mempunyai urat kemaluan, mereka tidak malu ketika berbaut mesum di tempat umum ketimbang harus membaca buku yang justru memalukan, mandsat inilah yang harus segera diubah,
Mahasiswa yang sadar akan membaca dimanapun ia berada, walaupun tempatnya harus dikantin,di pinjggir wc, bahkan ketika berjalan ia akan sempatkan untuk membaca buku, gerkan semacam inilah yang akan membawa perubahan terhadap dunia kampus, ketika ada mahasiswa lain yang belum sadar melihat orang yang sedang membaca buku ia akan malu sebagai seorang mahasiswa pemalas sehingga bisa saja mereka akan tergugah hatinya dan tersadarkan hanya karena melihat satu mahasiswa yang sedang keasyikan membaca.
Disisi lain seseorang akan membandingkan pengetahuan mahasisawa yang rajin membaca dan yang tidak pernah membaca, tentunya hal ini akan dilihat disautu forum diskusi, orang yang rajin membaca akan menguasai teori-teori yang dipahami dari buku bacaan dan sikap kritisnya bisa mengendalikan forum tersebut, sedangkan orang yang tidak pernah membaca hanya sekedar jadi penonton karena memang ia tidak pernah tau terhadap pemahaman yang disampaikan disautu forum tersebut, maka dari itu tanggung jawab semua mahasiswa terhadap pentingnya budaya membaca harus dikapanyekan melalui kerjasama antara organisai-organisasi/komunitas literasi,supaya mahasiswa lain ikut tersadarkan dengan kampanye tersebut.
(Penulis merupakan mahasiswa Uin Banten dan berorganisasi di S.W.O.T)

No comments:
Post a Comment