Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Sarekat Islam: Islam dan Komunisme, Tunggang-Menunggangi

Sportlite.id
18.2.19, 5:24 AM WIB Last Updated 2019-02-18T14:44:40Z

Di awal abad ke-20, dunia tengah mengalami guncangan. Perang dimana-mana, dan krisis melanda. Tak terkecuali Hindia Belanda. Sebagai negeri jajahan, Hindia Belanda, yang tereksploitasi secara materil dan non-materil, ditambah krisis yang melanda, memperparah keadaan kehidupan penduduk pribumi. Arus kapitalisme di Hindia Belanda semakin memperparah. Dalam keadaan seperti inilah, Henk muncul dengan membawa gagasan dan ide tentang Komunisme. 

Terlebih, pada tahun 1917, angin revolusi proletar menderu dari Rusia. Ini semakin meyakinkan sejumlah tokoh Sosial-Demokrat, diantaranya Henk, dengan jalan-jalan revolusioner. Tak terkecuali untuk di Hindia Belanda.

Proses kelahiran SI, mungkin berbarengan dengan keadaan yang menghimpit itu. memang, SI diprakarsai oleh kalangan intelektual dan pedagang batik, tetapi mayoritas anggotanya adalah penduduk pribumi yang melarat. Tentu, mereka berharap banyak dengan SI. Tjokro adalah manifestasi dari juru selamat atau ratu adil.

Di bawah kepemimpinan Tjokro, SI dengan ideologi Islam bukanlah tatanan yang ideal. Penuh sikap kompromistis dan cenderung moderat. Hal ini nampak dari bagaimana Tjokro memandang gagasan ‘pemerintah sendiri’ (Self goverment). Jalan pikiran Tjokro yang parlementer, mempertegas corak ideologi SI itu sendiri. Artinya, SI tak memiliki kepercayaan diri untuk memerdekakan penduduk pribumi. Artinya, lagi, kesusahan hidup penduduk pribumi masih harus dialami. Pada titik ini, Komunisme coba di tawarkan. Melalui sosok Henk dan para murid intelektualnya, Semoen dan kawan-kawan SI Semarang.

Komunisme, dengan Marxisme sebagai pedoman pikiran, terbukti ampuh membangkitkan kesadaran ketertindasan penduduk pribumi. Benar, tak menjadi soal pengikut SI Semarang atau PKI mengerti tentang Komunisme/Marxisme atau tidak. Setidaknya, SI Semarang atau PKI memberikan sebuah harapan kemerdekaan.

Pada titik ini, kita bisa memahami sosok Haji Miscbah. Seorang mubalig yang dikenal taat beribadah dan kerap mengutip kitab suci, menerima bahwa Komunisme sebagai alat pembebasan ketertindasan. Baginya, Islam dan Komunisme tak bisa dipisahkan, bagi kemerdekaan penduduk Hindia Belanda. Oleh sebab itu, Haji Misbah begitu mahir mengutip ayat Al Qur’an dan hadis Nabi Muhammad dan mensejajarkan dengan paham-paham Marxisme1.

SI, di bawah kepemimpinan Tjokro dan Haji Agus Salim memang sebuah cerita yang unik, sekaligus paradoksal. Atau memang, ‘zaman pergerakan’ adalah paradoks? Yang jelas, dengan kebijakan disiplin partainya, Haji Agus Salim mencoba membersih SI dari unsur Komunisme. Tentu, seberapa jauh ketidakpuasan dan pandangan elektik-sinkretik kedua tokoh itu tersebut dalam memandang Islam dan Komunisme. Lagi-lagi, terdengar paradoks.

Contoh yang menarik tentang tunggang-menunggangi antara Islam dan Komunisme adalah peristiwa pemberontakan Komunis pada tahun 1926 di Banten. Masuknya Komunisme di Banten cenderung terlambat. Tetapi, Komunisme justru di terima baik disana, meskipun sebagian masyarakat Banten muslim yang fanatik.

Menurut Michael C William, Islam-Komunisme di terima baik di Banten, di karenakan memang tindakan kesewenangan pemerintah kolonial Hindia Belanda. artinya, Islam-Komunisme di jadi satu alat untuk mempertentangkan pemerintah kolonial2. Hal ini menjadi menarik, lagi-lagi sebagaimana teah ditelaah diatas, bawah sebetulnya pada masa itu ajaran Komunisme/Marxisme tak menjadi soal mengerti atau tidak, yang pasti Komunisme/Marxisme beserta Islam di jadikan alat untuk mempertentangkan pemerintah kolonial.

Jika di Surakarta kita mengenal Haji Misbach, seorang ulama yang taat beribadah namun menerima Komunisme, maka di Banten ada sosok Kyai Haji Achmad Chatib. Ia adalah pemimpin dan pemeran penting dalam pemberontakan Komunis di Banten pada tahun 1926. Ia beserta kawannya, Ahmad Basaif dan Tubagus Alipan, menjadi sosok yang mengombinasikan Islam dan Komunisme di Banten pada pemberontakan tahun 1926.

Ini menunjukkan, Islam-Komunisme, pada suatu masa tertentu dapat beriringan dan sejalan, tanpa mempertentangkannya.

Dan, Islam-Komunisme.

Pada 23 Mei 1920, Partai Komunis Indonesia berdiri. PKI menjadi generator jalannya revolusi di Hindia Belanda. Pada tahun 1926, atau biasa dikenal dengan keputusan Pramban, November 1925.

Revolusi yang dicanangkan oleh Semaoen dan kawan-kawan memang gagal. Pemerintah kolonial Hindia Belanda masih berdiri. Bahkan setelah itu, para komunis dan setengah-komunis di buang ke Boven Digul. Dan setalah itu, jawara pergerakan di paksa tiarap untuk mengepalkan tangan untuk meneriakkan kata; “lawan!”.

Komunisme di Indonesia memiliki cerita tersendiri. Dan cerita itu kerap bersinggungan dengan Islam. Tak heran, jika kita baca riwayat hidup beberapa tokoh komunis, semisal Tan Malaka atau DN Aidit, yang dianggap komunis tulen, rupanya mereka (dulu) seorang muslim yang taat. Tan kerap belajar di surau saban magrib. Aidit dikenal sebagai muazin di surau dekat rumahnya.

Belum lagi, beberapa peristiwa pemberontakkan pada tahun 1926 di sejumlah wilayah. Yang digerakkan oleh sel-sel Komunise, namun para penggeraknya seorang pemimpin Islam, itu yang terjadi di Banten.

Kemudian, dalam tubuh SI, dikotomi antara “Putih” dan “Merah” menjadi sebuah kekeliruan, jika kita tak memperhatiakn konteks zaman. Persolan “Putih” dan “Merah” di tubuh SI menunjukkan terjadinya proses dialektika sebuah gagasan pada suatu zaman; pergerakan. Hal ini yang perlu diperhatikan. Bukan perseteruan abadi antara “Putih” dan “Merah”.

Pada bagian ini, rupanya, sosok Soekarno muncul untuk menerangkan dikotomi “Putih” dan “Merah” itu melalui tulisannya “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang ditullis secara tiga periode 1926/19273. Soekarno menjelaskan, bahwa ketiga gagasan dan ide itu mesti dalam satu ‘kapal’, yakni persatuan.

Melalui tulisan Soekarno itu, kita harus melihat, dikotomi antara “Putih” dan “Merah” bukan sebagai dua entitas ideologis yang selalu bersetereu. Pada suatu masa, mungkin bisa saja benar, dan itu yang terjadi pada tubuh SI di bawah kepemimpinan Tjokro. Artinya, sejarah mencatat, bahwa persentuhan dan perseteruan antara Islam dan Komunisme pada tubuh SI mesti dilihat sebagai proses dialektika zaman.

  • [accordion]
    • Sumber Bacaan
      • 1 Opcit... Takashi Zaman Bergerak. Hal. 344 | 2 Lihat Michael C William Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis di Banten 192,(Yogyakarta: Syarikat, 2003) 6-7. | 3 Lihat Peter Kasenda Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2014). Hal. 14

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan