Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

“Terorisme”, Upaya Nyata Membunuh Keberagaman Indonesia

Sportlite.id
16.2.19, 2:43 AM WIB Last Updated 2019-03-07T05:35:53Z

“Seberapa banyak aksi teror dilakukan, Indonesia tidak akan pernah hancur jika bangsanya tetap komitmen menjunjung keberagaman dan menolak intervemsi profokatif” (Al- Haqiqi)

Mengerutnya pola pemikiran kritis dapat mempengaruhi setiap tindakan manusia. Hal ini terbukti dengan kasustik yang terjadi pada setiap tahunnya. Problematika yang semarak terjadi adalah aksi teror ”Terorisme”.

Pada tahun 2016 aksi teror secara berkepanjangan terjadi di Indonesia, salah satu diantaranya adalah peristiwa 28 Agustus 2016 terjadi ledakan Bom bunuh diri di Greja Katolik Stasi Santo Yosep, Kota Medan - Sumatra Utara. Kemudia pada 13 November 2016 ledakan Bom terjadi di depan Gereja Oikumene, Kota Samarinda – Kalimantan Timur.

Aksi pengeboman terhadap Gereja dapat dikatakan hampir terjadi pada setiap tahun, kini pada 13 Mei 2018 pengeboman terjadi kembali di Gereja Katolik Santa Maria, Jalan Ngegel- Kota Surabaya yang mengakibatkan banyak memakan korban.

Dari beberpa kasuistik teror di atas, hal ini tidak lain merupan suatu strategi yang disetting oleh kaum elitis untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu. Menuru Reza A.A Wettimena didalam tulisannya yang berjudul “Terorisme dan Transendensi” menyebutkan bahwa dalam tradisi pemikiran politik, terorisme dibagi menjadi dua. Pertama, tindakan teror negara yang menyebarkan ketakutan pada rakyatnya untuk memecah belah demi penguasaan total, kedua, adalah terorisme dari bawah yang dijalankan oleh sekelompok orang tertentu bisa dengan dukungan atau justru melawan kepentingan pemerintah.

Peristiwa terorisme yang terjadi di Surabaya merupakan aksi yang dapat memecah belah bangsa Indonesia, berwal dari penyebaran isu tersebut akan memunculkan rasa phobia pada masyarakat Indonesia, dan konstruk pemikiran masyarakat Indonesia akan semakin cemas dan akan melahirkan berbagai macam asumsi-asumsi, sehingga dapat membentuk polemik antar umat beragama.

Sesugguhnya aksi teror di atas merupakan sebuah rekayasa sosial yang dilakukan oleh orang-orang cerdas, ia terbentuk dari perencanaan yang canggih dan koprehensip, dan untuk mencapai tujuan yang diinginkan orang – orang yang terlibat dalam aksi teror akan kehilangan daya kritis dan sifat kemanusian. Sehingga upaya transendensi sudah tidak lagi menjadi ciri dasar dari setiap orang yang terlibat dalam terorisme tersebut, yang ada hanyalah kepentingan-kepentingan pragmatik.

Upaya membunuh keberagaman tersebut merupakan salah satu tujuan dari terorisme itu sendiri. Petter Wldman salah satu pemikir Jerman, telah membedakan tiga bentuk dasar tujuan utama dari tindakan terorisme, di antaranya adalah tujuan nasionalisme, tujuan revolusioner, dan tujuan religius.

Aksi teror yang terjadi di Indonesia merupakan upaya untuk mencapai dua tujuan yang di paparkan oleh pemikir Jerman tersebut yaitu, Revolusioner dan Religius. Tujuan revolusioner, seperti contoh keinginan untuk perubahan sistem pemerintahan, sedangkan tujuan religius merupakan suatu keinginan dari kelompok tertentu untuk mendirikan negara homogen yang berpijak pada satu agama tertentu.

Dua hal tersebut akhir-akhir ini memang mejadi pembahasan yang hangat, karena mengingat pekan terakhir yang mendekati pesta demokrasi dan akan berlangsung di tahun 2019. Aksi teror ini tidak bisa dipisahkan dari hal tersebut, karena pada dasarnya kepentingan politik merupakan faktor utama untuk mencapai kekuasaan tertentu.

Kita ketahui bahwa Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku dan bangsa. Namun beberapa tahun ini banyak paham radikalisme kembali menghantui masyarakat Indonesia, paham ekstrem ini memiliki tujuan untuk membentuk negara Indonesia menjadi negara homogen. Sehingga hal tersebut akan menyebabkan perpecahan antara umat beragama yang berada di Indonesia. Oleh karena itu tetap satukan barisan dan tetap komitmen dalam mengawal cita-cita kemerdekaan Indonesia yang bersaskan pancasila sebagai Ideologi Negara.

Lawan Teroris dan jangan biarkan kekerasan menjadi pemenang di Negri ini....!!!
--
Penulis : Hasan Al Hakiki (Kader PMII Probolinggo)

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan