Berdasarkan catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, S.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara.
Penafsiran pertama, ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya.
Penafsiran pertama, ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya.
Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahancurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane, yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara.
Penafsiran ketiga, F.G. Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan.
Penafsiran keempat, istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat dibidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya .
Melihat uraian diatas bahwa Jawara pada dasarnya yaitu orang-orang yang baik hati karena selalu membela orang-orang yang lemah, dan mampu menjadi pemimpin yang ideal bagi masyaratanya.
Saat ini peran Jawara sudah mulai tidak nampak di tanah Banten ini, tapi tokoh ini dulu memang cukup sentral. Bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah “terpelajar”, sekarang mereka tidak mau menamakan dirinya Jawara.
Lalu kenapa saat ini Jawara tidak muncul untuk memimpin tanah kelahirannya, untuk mengabdikan jiwa dan raganya untuk tanah tercintanya, mungkinkah jawara yang dahulu dibanggakan sekarang hanya tinggal kenangan, bahkan boleh jadi jawara saat ini sudah tidak lagi membela orang-orang yang lemah dan hanya membela orang-orang yang kaya, sehingga tidak ada yang mau memimpin tanah jawara, untuk kemudian membangun tanah kelahirannya serta menjaga kemakmuran dan membuat bangga tanah Banten dari daerah-daerah yang lainnya.
Saat ini peran Jawara sudah mulai tidak nampak di tanah Banten ini, tapi tokoh ini dulu memang cukup sentral. Bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah “terpelajar”, sekarang mereka tidak mau menamakan dirinya Jawara.
Lalu kenapa saat ini Jawara tidak muncul untuk memimpin tanah kelahirannya, untuk mengabdikan jiwa dan raganya untuk tanah tercintanya, mungkinkah jawara yang dahulu dibanggakan sekarang hanya tinggal kenangan, bahkan boleh jadi jawara saat ini sudah tidak lagi membela orang-orang yang lemah dan hanya membela orang-orang yang kaya, sehingga tidak ada yang mau memimpin tanah jawara, untuk kemudian membangun tanah kelahirannya serta menjaga kemakmuran dan membuat bangga tanah Banten dari daerah-daerah yang lainnya.
Faktanya saat ini ada 4 (empat) kepala daerah di tanah jawara dipimpin oleh perempuan, yakni Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, Bupati Pandeglang Irna Narulitia, Bupati Lebak Iti Oktavia Jayabaya, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diani.
Melihat fenomena yang ada saat ini, mungkinkah Ini adalah tanda kemunduran tanah jawara ? hingga seorang laki-laki yang dulu dinamakan jawara, hari ini entah kemana. Masihkah tanah Banten ini pantas disebut tanah jawara ? apabila seorang disebut jawara tidak mau memimpin atau bahkan tidak memiliki potensi daripada perempuan untuk memimpin tanah Banten ini.
Kita semua berharap bahwa tanah jawara yang dahulu oleh para leluhur kita perjuangkan hingga menjadi daerah yang mampu dibanggakan, kita mampu menjaga eksistensinya, bukan sebaliknya yaitu menjatuhkan harkat dan martabat tanah jawara itu sendiri.
Kita semua berharap bahwa tanah jawara yang dahulu oleh para leluhur kita perjuangkan hingga menjadi daerah yang mampu dibanggakan, kita mampu menjaga eksistensinya, bukan sebaliknya yaitu menjatuhkan harkat dan martabat tanah jawara itu sendiri.

No comments:
Post a Comment