Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Visi Misi Vs Isi Tas di Era Pemilu

29.3.19, 7:45 PM WIB Last Updated 2019-12-14T09:28:31Z
Oleh : Muhamad Jejen - Negara demokrasi sebagai negara yang menghendaki adanya rakyat yang memang sebagai objek pemilih.Keterbukaan dan kebebasan keran berbicara  suatu kunci nafas kemerdekaan berekspresi, berfikir dengan menggunakan akal sehat, Penyelenggara pemilu merupakan instrumen negara yang hakikatnya mencerdaskan kehidupan Demokrasi bangsa.

 Transformasi kesadaran melalui pendidikan demokrasi sudah sepantasnya menjadi konsumsi rakyat.
Pemilihan umum tentu sebagai proses pergantian kekuasaan secara damai, hal ini sebagai cerminan daripada kemajemukan dalam prinsip Bhineka Tunggalika, satu kesatuan dibawah ibu pertiwi yang merekatkan asas kentalitas persaudaraan.

Dengan demikian pemilihan dilakukan secara berkala sesuai dengan prinsip-prinsip yang digariskan oleh konstitusi, konstitusi sebagai jantung yang memang jika dianalogikan dalam raga manusia mempunyai peran sentral kehidupan, maka jika tergores seluruhnya akan terlukai, pun demikian hirup pikuk demokrasi merupakan arah kita dalam berbangsa dan bernegara, Pemilu meruapakn Party seluruh warganegara, sifatnya bersenang-senang, jadi tidak ada yang ditakuti, kita harus meramaikan  hajat negara, pesta dan lain sebagainya. Namun disayangkan  Jika pemilu dilaksanakan dengan cara yang anarkis dan merugikan orang lain, maka hal itu sudah keluar dari ranah dan hakikat Pemilu. Mencederai kehidupan demokrasi, dan membunuh garis konstitusi negara kita.

Secara rasional pemilu sejatinya dilaksanakan dengan cara yang damai dan membuat hati riang gembira. Bukan dilakukan dengan anarkis, apalagi sampai adu bacok, baka-membakar, bunuh-membunuh.

pelaksanaan pemilu merupakan parameter demokrasi suatu negara. Semua negara demokrasi menyelenggarakan pemilu, tetapi tidak ada jaminan semua pemilu dipastikan berlangsung demokratis. Sehingga hal ini harus dilakukan dengan tindakan prefentif melalui trasformasi kesadaran kepada seluruh masyarakat.

Disisi lain yang lebih menggelitik paradigma berpikir dan mindeset masyarakat tidak bisa dihindarkan dengan money politik, hal lain pun terjadi para calon pemimpin yang mengemis suara terkadang akan melakukan segala cara, seperti halnya melalui armada amplop berjalan, sampai kepada centong, gantelan, baskom, piring, asbak,besek, kipas semuanya memakai label nama calon disertai dengan photo. Phenomena seperi itu sangat menarik karena sudah menjadi kultur yang melebur dalam syaraf yang tidak sehat.

Hal ini harus kita sadari calon pemimpin terkadang tidak mempunyai gagasan yang visioner, sehingga berdampak pada kekacauan berfikir yang bermuara pada isi tas, karena memang tidak bisa bersaing secara gagasan dalam menawarkan visi misi pun demikian tidak membawa program-program konkrit. Kita tahu bahwa dari sekian catatan calon baik eksekutif maupun legislatif hanya 30% yang membawa visi untuk dijual kepada rakyat, sisanya membawa isi tas sebagai parameter dalam mendongkleng popularitas namanya tersebut.

Hama-hama peserta pemilu atau calon pemimpin bangsa dan negara diera pemilihan umum tahun 2019 berserakan dipinggir jalan, bahkan di setiap halaman rumah, pohon, dan lain sebagainya. Penyakit-penyakit ini justru mencoreng etika dan estetika nilai keberesihan dan keindahan lingkungan. Beragam photo dengan berlaga peci miring sampai kepada hal seluruh raganya bermain, katakanlah jari-jemari, mimik muka yang miring, berdiri tegak, style yang bermerek, sifat yang mempertontonkan religiusitas, nasionalis, proletaris, marhaenis dan lain-lain, semua hal itu dilakukan untuk bagaimana bisa memikat hati rakyat.

Namun yang jadi pertanyaan! Apakah rakyat mengetahui calon-calon pemimpinnya? tentu jika dikulik lebih mendalam banyak yang tidak tahu, karena memang kemunculan nama-nama calon pemimpin terkadang menjadi suatu hal yang asing, bahkan sebelumnya rakyat tidak pernah tahu terhadap sepak terjang dan seluk-beluk calon, miris! yang lucunya lagi tentu berkaca pada visi misi calon, apalagi berbicara calon legislatif, kebanyakan yang memang bukan berangkat dari kegelisan terhadap situasi dan kondisi rakyat, namun berangkat dari isi tas yang penuh yang mampu membeli seluruh suara rakyat. Patalnya lagi rakyatpun termakan dengan sikap dan ulah calon pemimpin yang tolol seperti itu.

Menari kiranya phenomena isi tas sangat laris ketimbang visi misi yang visioner, indikasi ini terlihat nyata dan mengakar di masa pemilu. Presentasi isi tas peserta pemilu semakin tinggi, bahkan kemudian sudah membangun imperium tas sebelum pemilu. Soal visi akan dikesampingkan, namun demikian yang akan menjadi instrumen pemikat suara rakyat dengan menggalakan isi tas yang dibangun sebelumnya, calon pemimpin kita bukan berlomba adu gagasan dengan membawa program perubahan, akan tetapi  berlomba-loba melalui isi tas yang dikemasnya. Sungguh miris bumi pertiwi!! Cita-cita tokoh kemerdekaan di iris-iris!

Baru-baru ini mecuat  pada pemilu 2019, beberapa calon legislatif melakukan tindakan yang amoral, merusak peradaban dan hakikat pemimpin, memalukan, tidak dapat kita terima dengan akal sehat. Pasalnya mereka tertangkap tangan baik oleh aparatur negara maupun KPK, ada calon yang melegalkan pencurian untuk pendanaan kampanye, disisi lain pun sama calon legislatif RI mencoba untuk melakukan suap-menyuap, merampog uang negara untuk bagaimana bisa digunakan dalam pendanaan dirinya, bahkan kemudian dari hasil suap tersebut nominalnya sangat besar yang memang sudah di kemas dalam bentuk amplop. Artinya duit tersebut untuk digunakan dalam serangan fajar saat pemilihan nanti. Namun semua niat busuk calon pemimpin yang bokbrok berujung pada jeruji besi. Aparatur kepolisian maupun KPK selalu memberantas tindakan keji tersebut,

Namun kesadaran dan moralitas terkadang tergadaikan oleh uang, jadi bagi kaum yang tidak waras segala apapun parameternya duit, ironisnya hal ini menjadi pendidikan calon pemimpin yang merubah paradigma berpikir masyarakat, calon pemimpin yang tidak memberikan contoh kepemimpin yang baik, dalam pada pemilu 2019 tentu lumbung monay politik terlahir dari kecacatan ataupun ketidak sehatan berfikir. Interpretasi soal hak dan kesadaran masyarakat dalam menentukan pilihannya terkontaminasi oleh Faktor Ekonomi sehingga menimbulkan degradasi moral, suara digadaikan untuk meraut keuntungan materil, transaksi suara terjadi disetiap titik, serangan fajar menjadi wahana bisnis di era pemilu, masyarakat yang berfikir tidak sehat bukan berbicara soal perubahan, soal sosok pemimpin, soal visi misi pemimpin, bukan pula soal bagaimana arah kehidupan selanjutnya. Akan tetapi soal seberapa tebal isi tas yang dikeluarkan oleh sang calon, Keran demokrasi yang dimiliki oleh rakyat berujung pada transaksi suara yang bernuansa  materi, jika kita renungkan suara atau hak pilih hakikatnya tidak pernah terukur oleh materi, kita menentukan perubahan hanya bisa melalui pemilu, suara tidak hanya berakhir pada persoalan selesainya pemilu, melainkan akan menentukan nasib dan arah perubahan masyarakat dalam pada selesainya party atau seremonilitas hajat negara. kehidupan nyata melalui kebijakan-kebijakan selanjutnya yang akan ditentukan oleh pemimpin yang memang berangkat dari keringat rakyat, tangisan rakyat, penindasan dan penderitaan rakyat. Maka persoalan pemilu harus di sikapi secara sehat, gunakan suara untuk memilih pemimpin yang membawa visi misi yang nyata, melainkan bukan membawa isi tas yang akan membunuh kehidupan berbangsa dan bernegara.

(Penulis adalah Sekjen SWOT Cabang Serang)

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan