Baru-baru ini republik kita dihebohkan oleh adanya wacana Industri 4.0 dimana kerja-kerja produksi akan dikendalikan oleh teknologi. Dengan demikian, kerja manusia tidak lagi dibutuhkan secara penuh kedepannya oleh pabrik-pabrik dan berbagai sektor lain untuk menghasilkan barang-barang produksi. Padahal, buruh-buruh upahan di Indonesia jumlahnya signifikan diberbagai tempat terlebih perempuan. Sementara itu, upaya kita dalam menempuh Pendidikan berbasis formal atau informal selalu berorientasi pada pekerjaan/profesi walaupun tidak semua orang berfikir demikian.
Jika industry 4.0 ini tiba pada kondisi dimana kita menempuh Pendidikan hanya untuk orientasi pekerjaan, sementara pabrik dan berbagai perusahaan yang ada tidak lagi menampung manusia untuk menjadi sekedar pekerja, sepertinya ijazah yang kita miliki dengan berbagai latar kampus yang bonafide sekalipun tidak berarti apa-apa. Dan pada akhirnya akan kemana kita kelak? Perempuan yang telah bercita-cita akan menjadi seorang pekerja setelah sekian lama menempuh Pendidikan, dan ternyata arsip lamaran yang dijajakan tidak satupun perusahaan mau menerimanya, akankah ia kembali lagi pada fase feodalisme dan kolonialisme dimana doktrin sumur Kasur dan dapur sangat melekat, Dan para laki-lakipun demikian?
Meskipun secara SDM kita belum sepenuhnya siap menghadapi arus modernisasi ini, tetapi wacana berfikir kita mulai dari sekarang sudah harus dibuka lebar dan globalisasi memang demikian adanya, selalu memaksa untuk kita mengikuti alur yang ia kehendaki. Modernisasi selamanya tidak pernah bisa dibendung kecuali kita mempersiapkannya. Ia bak sungai yang deras, tidak ada upaya yang bisa kita lakukan untuk bertahan kecuali ikut Bersama arus yang besar tersebut. Untuk membuka cakrawala baru ini, kita mencoba merumuskan Bersama agar wacana tersebut terbuka di ruang-ruang publik dan membuka lebar fikiran kita bersama.
Mulai dari sekarang kita sudah harus mempersiapkan itu semua dan merumuskannya meski hanya dalam fikiran. Dalam keadaan seperti sekarang saja, pengangguran di Indonesia masih sangat tinggi meski data yang diutarakan BPS spesifikasinya tidak kompromi. Imbasnya, ketika wacana Industri 4.0 ini terjadi, disamping SDM yang belum siap seperti diutarakan dimuka, juga akan semakin menambah jumlah pengangguran di Indonesia karena minimnya lapangan pekerjaan yang sangat tidak memadai. Menyedihkan bukan?
Namun memang kondisi ini suka tidak suka, senang tidak senang harus kita hadapi. Jika tidak, Negara kita akan tertinggal jauh oleh Negara-negara lain yang ada di luar sana. Bahkan di Jepang, Negara tersebut bahkan sudah bicara tentang Industri 5.0

No comments:
Post a Comment