Ruangpublik.co - Hari ini (07 April), kebetulan saya sedang ada di Desa Muara, kecamatan Wanasalam Binuangen bersama comrades yang juga dari sekitaran Desa ini. Memang awalnya kita tidak sengaja singgah disini karena dari awal memang tidak ada niat sama sekali dari kami.
Minggu pagi, saya diajak berkunjung ke salah satu pantai untuk menghadiri sebuah acara “Dialog Kepemudaan Dan Panggung Budaya”, dan Temanya cukup merinding untuk kita jiwai “ Peran Fungsi Pemuda Dalam Pembangunan Desa”. Tentu saja saya antusias dan sebelumnya memang sangat jarang saya melihat ada sebuah acara dialog di pesisir pantai. Kita hanya biasa melihat jika pantai lazimnya dikunjungi orang hanya untuk mandi, hunting bersama kawan-kawan, pesta fora dan huru-hara saja.
Ada pegeseran tempat yang substantif yang kami lihat dari sebuah pesisir pantai sebagai hiburan semata. Seperti yang kami sebut dimuka tentang lazimnya pantai, kini ia menjadi satu tempat yang menjadi awal perubahan yang diniatkan oleh sekelompok pemuda. Dan dari cara kami memahami tema yang diusung, tentu ada sebuah problem yang melatari kenapa tema ini harus diangkat.
Tempat yang kami datangi sudah ramai dikunjungi kawan-kawan. Mereka berdatangan antusias untuk hadir dari berbagai kalangan. Partisipasi pemuda Desa untuk hadir dalam acara seperti ini nampaknya mengapresiasi siapapun orang yang melihatnya. Apalagi yang datang sekumpulan pemuda, mahasiswa dan anak anak sekolah yang kita sendiri biasanya punya anggapan kurang baik terhadap mereka yang sangat acuh tak acuh dalam forum-forum seperti ini.
Ada yang unik dalam acara ini, sebelum dibuka dan dialog berlangsung, pementasan musik klasik dari jenis angklung yang dibawakan kawan-kawan komunitas dan juga makanan-makanan tradisional serta alat-alat klasik sebagai simbol cukup mengikis persepsi kita tentang sudah hilangnya budaya yang kita miliki. Tentu inspirasinya tak lain untuk mengangkat kembali kultur dan budaya-budaya luhur kita yang nyaris tenggelam.
Dialog tersebut tidak saja menjadi simbol bersatunya pemuda di desa ini, tatapi menjadi sebuah perlawanan yang nyaring atas budaya westernisasi yang mendominasi manusia akhir-akhir ini. Setiap orang sangat jarang memahami dan belajar tentang sejarah bahwa bangsa kita dahulu maju dalam berbagai sektor dan kaya akan kultur dan budaya. Tentu saja kebesaran itu terkisis karena masyarakat kita khususnya kamu muda lebih memilih apa-apa yang disuguhkan oleh budaya-budaya luar.
Sementara kita tidak bisa membantah mengapa tiongkok bergengsi dalam pergaulan internasional dan bahkan mendominasi berbagai Negara lain. Tidak bisa kita pungkiri bahwa mereka tidak pernah melepas budaya luhur yang mereka punya dan sebuah sejarah besar yang mengiringi arus globalisasi yang deras.
Mengkampanyekan sebuah kultur dan budaya menjadi hal penting ditengah situasi dan kondisi negara dikanalisasi oleh budaya-budaya luar. Dan benteng yang terkuat untuk bertahan dalam situasi seperti ini adalah sejarah dan budaya budaya besar kita sendiri.

No comments:
Post a Comment