Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Fenomena Ustadz Dadakan dan Betapa Berbahayanya Mereka

Sportlite.id
12.12.19, 11:51 PM WIB Last Updated 2019-12-13T18:24:28Z


Betul memang, sampaikanlah walaupun satu ayat. Adagium ini setidaknya menunjukan makna bahwa kita yang beragama Islam harus sama-sama saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan. Namun akan berbeda, jika hanya karna hafal satu ayat saja, kita sudah dipanggil Ustadz.

Ustadz dalam bahasa arab dimaknai sebagai “Guru” atau “Orang berilmu yang memberikan pelajaran Ilmu agama kepada orang lain yang lebih awam”. Ustadz berarti seorang Pengajar, itu juga berarti kapasitas keilmuannya harus jelas dan mumpuni. Sebagaimana pengajar, maka penting bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang sanad keilmuanya, siapa guru-gurunya dan bagaimana ia mempelajari ayat-ayat dan hadits-hadits nabi, paling tidak kita mengenal dimana dulu ia mempelajari ilmu agama, dipesantren atau mungkin hanya di internet.

Ini penting, sebab ilmu agama, khususnya Islam tidak bisa disamakan dengan keilmuan yang lain, tidak semua orang memahami lebih dalam tentang makna yang terkandung dalam hadits apalagi dalam firman. Karna untuk memahami kemudian mengajarkannya pada orang lain, setidaknya harus menggunakan metode-metode yang dibolehkan dalam Islam.

Dalam ilmu fiqh saja mislanya, ada perbedaan metode dalam menafsirkan hukum-hukum syara hingga kemudian menghasilkan beragam mazhab. Tentusaja kesimpulan-kesimpulan syara dalam ilmu fiqih tersebut diambil dengan metode ijtihad, atau dengan kata lain, simpulan hukum tersebut termasuk kategori Dzonni (Prasangka) bukan Qoth’i (Pasti). Maka hal yang diwajarkan jika kita sebagai masyarakat awam untuk mengikuti ulama madzhab manapun berdasarkan rujukan ulama yang termasyhur disekitar kita.

Itu hanya sedikit gambaran tentang bagaimana seharusnya seorang yang diberi label Ustadz harus benar-benar memahami seluk beluk dan kaidah keilmuan Islam. Sebab islam diwariskan tidak hanya pada ranah teks, tapi juga konteks. Dari para sahabat, kemudian tabi’in dan seterusnya. Ini tidak lain untuk menjaga kemurnian sanad, matan dan periwayat hadits-hadits.

Namun di Indonesia, hal demikian tidak diperhatikan, bahkan ada beberapa yang disebut ustadz oleh sebagian masyarakat mengesampingkan kitab-kitab klasik yang merupakan rujukan utama setelah al-Quran dan al-Hadits, yang memberikan perspektif yang lebih luas daripada sekedar membaca al-Quran terjemah dari “kemenag”, dan bahkan Ulama tafsir sendiri, misalnya al-Habib Quraisy Shihab dituduh sesat bahkan kafir oleh sebagian yang lain.

Fenomena ini terjadi saya rasa bukan tanpa sebab, tentu saja karna banyak hal, desakan ekonomi misalnya atau juga wawasan keilmuan masyakat awam yang cenderung rendah atau mungkin juga karna masyarakat disini mudah basa-basi hingga siapapun yang mengenakan peci langsung dipanggil ustadz atau Pak Haji, dan ternyata sipemake peci merasa bangga saat dirinya dipanggil dengan sebutan demikian, kemudian secara tiba-tiba langsung mengeluarkan Fatwa, uwaduh.

Dari sanalah kemudian muncul ustadz dadakan, lalu membuka pengajian dan menjawab semua pertanyaan jemaah mulai dari urusan cinta sampai urusan dapur mereka sikat, menjadi semacam consultan of everything (gak tau bener atau enggak itu bahasa inggrisnya) dan ujung-ujungnya malah menyerukan kebencian terhadap satu samalain sehingga timbulah perpecahan antar umat.

Fenomena ini bukan tanpa peringatan, sebelumnya Gus Dur pernah meramalkan fenoma tersebut. Nanti, kata Gus Dur kepada Kiyai Said sebagaimana dilansir oleh Kupang.tribunnews.com, saat itu Gus Dur masih sebagai ketua PBNU, akan datang suatu masa dimana orang yang bukan keturunan pesantren (Tidak pernah belajar agama di Pesantren) akan dipanggil ustadz. Dan kini, ramalan tersebut sedang dan benar-benar terjadi.

Berdasarkan analisa antum, mengapa hal demikian tiba-tiba disampaikan oleh seorang Gus Dur kepada kiyai Said jika sekiranya Fenomena Ustadz dadakan itu tidak masalah?, kalau fenomena ini bermasalah, lalu apa masalahnya?

Pertama, panggilan Ustadz dalam Islam itu sebenarnya Sakral, ini juga berarti penerimaan dan penghormatan kita sebagai bukan seorang Ustadz terhadap orang yang dianggap wawasan keilmuan agamanya jauh puluhan kali lebih luas daripada kita, pun termasuk etika dan akhlaknya. Penerimaan ini juga berarti penyerahan diri secara suka rela terdahap orang yang kita muliakan yang akan kita terima semua anjuran, nasihat dan masukan-masukannya. Jika kemudian, ustadz ini ternyata tidak mempunyai sanad keilmuan yang jelas, artinya tidak jelas siapa gurunya, dimana belajar ilmu agamanya dll, maka kita sebenarnya telah mengikuti orang-orang bodoh yang siap memanfaatkan diri kita. Alih-alih membuat kita menjadi lebih baik, malah sebaliknya, memprovokasi dan lain-lain.

Kedua, Jika kebetulan tepat pada momentum politik, maka ustadz-ustadz demikian akan digiring dan dijadikan orator-orator ulung oleh politisi-politisi untuk memprovokasi massa dan menyerukan Pe-Lebelan yang negativ terhadap rival-rival politik yang lain, bahkan juga terhadap usatdz-ustadz yang berbeda pilihan, misalnya seperti yang terjadi saat Pilpres 2019 beberapa waktu lalu. Ini jauh lebih berbahaya dan bisa menyebabkan perpecahan bahkan dapat memicu perang saudara. Namun untungnya, masyarakat kita bukan orang-orang barbar dan tentu mengerti aturan.

Ketiga, meletakan kepercayaan terhadap orang amatiran itu berarti menyerahkan hidup dan mati kita kepada mereka, sementara yang akan kita terima adalah kematian. Artinya ustadz-ustadz dadakan ini saya sebut bukan seorang profesional, mengapa kita harus menyerahkan hal-hal yang paling penting dalam hidup kita terhadap Amatiran? mengapa kok sepertinya diri sendiri tidak begitu dipercaya soal beginian? kita dan ustadz dadakan itu sama saja sebenarnya, yang beda hanya soal keberuntungan saja. Mereka diundang untuk mengisi pengajian, sementara kita tidak, padahal saya yakin seyakin-yakinnya, mereka juga sebelum memberikan cerama-ceramah agama, ngulik dulu di Internet pake metode SKSN (Sistem Kebut Sekali Ngulik).

Saya tidak bermaksud merendahkan profesi mereka para ustadz dadakan. Maksud saya, tidak mampukan kita menganalisa dan mempelajari sendiri tentang siapa ustadz itu sebenarnya, dulunya dia sebagai apa? Tukang Dangdut kah, Preman Pensiunkah, atau Mantan Teroris kah atau Mantan Presiden kah?

Sebenarnya memang tidak masalah siapa mereka dulunya, orang punya masalalu dan masa depan, asal terus berusaha memperbaiki diri, namun tentu perlu ada perlakuan khusus terhadap seseorang yang tiba-tiba menjadi ustadz tanpa kita tahu riwayat atau sanad keilmuannya, sebab dari awal tulisan ini sudah disebutkan, bahwa mereka akan mendidik kita dan mempengaruhi hidup kita. Artinya, semua orang mungkin bisa menjadi seorang Ustadz, tapi tidak semua ustadz layak untuk diikuti dan disebut sebagai Ustaz.

Kita harus tau perbedaan Mazhab, agar kita bisa mengikuti ustadz yang sesuai dengan mazhab yang kita ikuti. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang suka memecah belah.

Salam cinta dari saya. Untukmu dan Indonesiak

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan