Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

BRIN Temukan Sesar Aktif di Semarang, Lebih Panjang Dibanding Sesar Lembang

7.8.25, 9:50 PM WIB Last Updated 2025-08-10T11:31:03Z
BRIN Temukan Sesar Aktif di Semarang, Lebih Panjang Dibanding Sesar Lembang

Jumlah sesar aktif di pulau Jawa terus bertambah. Sebelumnya publik mengenal sesar Lembang, yang memanjang 30 KM di utara Bandung. Terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi sesar aktif yang membentang di Semarang, Jawa Tengah. 

Keberadaan sesar aktif Semarang selama ini kurang terpantau. Upaya mengungkapkan potensi sesar Semarang dilakukan BRIN melalui ekspedisi geologi Pusat Riset Kebencanaan Geologi pada Mei lalu. Tim rencananya akan turun melakukan penelitian lebih lanjut pada Agustus-September depan. 

Ekspedisi geologi itu dilakukan di Semarang dan sekitarnya. Termasuk kawasan Demak dan Kendal. Tim di lapangan mempelai sesar naik. Kondisi ini menunjukkan potensi gempa atau seismik di masa lampau. 

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Purna Sulastya Putra mengatakan potensi kerusakan akibat gempa di sesar aktif sangat banyak. "Bukan hanya di sepanjang jalur sesar aktif itu saja potensi kerusakannya," katanya dalam diskusi Menggali Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa di kantor BRIN (6/8).

Apalagi jika di sekitar sesar aktif itu banyak bangunan yang kurang kokoh. Termasuk ketika tipologi tamah di sekitar sesar masuk kategori lembek. Dia mencontohkan pada sesar Lembang yang melintasi Bandung, Cimahi, dan sejumlah daerah lainnya. Gempa yang terjadi di sesar Lembang, berpotensi menghasilkan daya rusak yang kuat di sekitarnya bahkan sampai ke Bandung yang berada di selatan sesar Lembang. Pasalnya kondisi tanah atau daratan di Bandung itu lembek. Pasalnya Bandung berdiri di atas endapan danau pada masa lampau. 

Kota Bandung dahulu merupakan cekungan purba hasil letusan Gunung Sunda pada 210 ribu tahun yang lalu. Kemudian selama ribuan tahun setelahnya cekungan termasuk tertutup oleh aktivitas vulkanik. Termasuk aliran sungai yang membawa berbagai macam material. 

Selain itu Purna mengatakan gempa yang terjadi di sesar aktif umumnya masuk kategori gempa dangkal. Sehingga kekuatannya cukup besar. Kemudian getaran dirasakan dalam radius yang luas. Dia juga menjelaskan tidak semua titik di sepanjang sesar aktif berpotensi menimbulkan gempa. Kalaupun berpotensi memicu gempa, kekuatannya berbeda-beda. 

Purna sendiri tidak terlibat langsung dalam tim yang meneliti sesar Semarang tersebut. Namun dia mengatakan di sepanjang sesar itu perlu diteliti lagi. Untuk diketahui di bagian mana posisi sesar. "Jadi di sepanjang sesar itu akan dipecah atau dibagi menjadi segmen-segmen," jelasnya. 

Kemudian diteliti di segmen mana yang sesarnya sudah pernah terjadi geseran atau gempa. Kemudian di segmen mana yang masih terkunci. Pada segmen yang sudah pernah terjadi gempa, tentu potensinya lebih kecil dibandingkan segmen yang masih terkunci sampai sekarang. Pada segmen yang masih terkunci itu, menyimpan energi gesekan. Yang sewaktu-waktu bisa lepas dan memicu gampa. 

Dia menekankan penelitian sesar aktif sangat penting. Khususnya untuk mitigasi gempa bumi. Kemudian juga sebagai panduan tata kota. Untuk mengurangi resiko kerusakan, lokasi berbahaya di sepanjang sesar aktif tidak diperuntukkan sebagai permukiman. 

Sementara itu periset bidang Paleoseismologi Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Sonny Aribowo mengatakan, tim ekspedisi sesar Semarang melakukan wawancara dengan warga setempat. Diantaranya menemukan informasi jejak morfologi unik antara pantai utara Jawa dan kota Semarang. Jejak ini menunjukkan adanya batas morfologi mencolok antara area datar di utara dan area yang lebih tinggi di selatan.

“Sesar di Semarang ini sudah pasti ada dan sudah pasti aktif karena ditemukan batuan ataupun endapan yang jadi indikatornya,” ujar Sonny. 

Ekspedisi ini menyusuri tiga zona utama, yaitu Zona Timur (Demak), Zona Kota (Semarang), dan Zona Barat (Kendal). Di ketiga zona itu tim memperoleh data yang berbeda-beda. Misalnya di Zona Barat di kawasan Bendungan Juwero menjadi titik paling menjanjikan, dengan jejak gawir sesar (tebing curam akibat gerakan sesar) antara 0,5 sampai 3 meter. Kemudian menemukan singkapan sesar aktif yang menunjukkan aktivitas tektonik Holosen. Yaitu pergerakan kerak bumi selama periode 11.700 tahun yang lalu hingga sekarang. Di beberapa bagian sesar terangkat hingga 20 meter di atas sungai. Kondisi ini menjadi bukti nyata pergerakan kerak bumi dalam skala waktu geologis.

Lokasi Semarang dipilih karena memiliki patahan panjang. Sehingga harus diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah berasal dari satu segmen sesar yang sama, atau terdiri dari beberapa segmen berbeda. Jika berasal dari satu sesar utuh, maka potensi magnitudo gempa yang dihasilkan akan lebih besar.

Bagian paling panjang dari patahan tersebut berada di utara Semarang. Kondisinya lebih panjang dari Sesar Lembang. Sehingga menandakan potensi gempa yang bisa lebih kuat.

“Kalau dari permukaan, sesarnya terlihat putus-putus, jadi bisa jadi berbeda segmen," jelas Sonny. Untuk memastikannya, pada ekspedisi susulan di Agustus-September akan dilakukan trenching di lokasi itu. Tujuannya untuk melihat berapa periode ulang gempa yang terjadi pada masa lampau. 

Sesar aktif yang ditemukan di Semarang dan sekitarnya itu, menyimpan informasi penting terkait potensi gempa bumi. Dengan dokumentasi dan pemetaan yang akurat, hasil riset sesar Semarang dapat menjadi dasar ilmiah untuk mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, dan edukasi masyarakat terhadap risiko bencana geologi.

Jejak Mega Tsunami Purba di Selatan Jawa

Dalam diskusi di kantor BRIN, Purba menerangkan soal temuan jejak tsunami raksasa di zaman purba yang terjadi di selatan Jawa. Gelombang Tsunami purba itu menyapu daratan sampai dua kilometer dari bibir pantai. 

Purna menjelaskan, salah satu temuan krusial BRIN adalah lapisan sedimen tsunami purba berumur sekitar 1.800 tahun. Sedimen ini ditemukan di berbagai titik di sepanjang selatan Jawa. Seperti di Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo. 

“Dikarenakan penyebarannya yang meluas di banyak lokasi di selatan Jawa, jejak ini diperkirakan merupakan hasil dari tsunami raksasa yang disebabkan gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau lebih," tuturnya.

Dia menegaskan temuan itu bukan satu-satunya. Jejak tsunami raksasa lainnya ditemukan berumur sekitar 3.000 tahun lalu, 1.000 tahun lalu, dan 400 tahun lalu. Sehingga ada data tsunami yang berulang. 

Riset paleotsunami atau tsunami purba itu dilakukan melalui pengamatan lapangan. Di antaranya di lingkungan rawa dan laguna. Sedimen laut yang terbawa oleh gelombang tsunami lebih mudah dikenali dan terawetkan di lingkungan itu. 

Pembuktian bahwa lapisan tersebut merupakan endapan tsunami, dilakukan analisis lanjutan. Seperti uji mikrofauna, kandungan unsur kimia, hingga pentarikhan umur radiokarbon. “Tantangannya adalah tak semua endapan tsunami purba bisa bertahan utuh dan terawetkan dengan baik," katanya. Kemudian tantangan membedakan dengan sedimen akibat proses-proses lain seperti banjir atau badai. Sehingga memerlukan kehati-hatian dalam melakukan analisis sedimen. 

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan