
JAKARTA, Kebakaran besar yang terjadi di Pasar Taman Puring pada Senin (28/7/2025) tidak mengurangi semangat para pedagang dalam mencari penghidupan.
Lima hari setelah kebakaran, para pedagang perlahan kembali ke pasar untuk membuka lapak darurat menggunakan perlengkapan yang tersedia.
Tiang-tiang tenda yang berwarna merah dan biru berfungsi sebagai pembatas antar lapak yang menjual berbagai jenis barang, mulai dari sepatu, pakaian, barang antik, jam tangan, kacamata, hingga makanan.
Pengusaha jam tangan bernama Yusuf (49) mengatakan bahwa para pedagang kembali dengan inisiatif masing-masing.
"Jualan ini inisiatif dari pedagang sendiri, tenda disediakan sendiri, listrik juga dibayar iuran, diizinkan oleh pengelola," kata Yusuf kepada, Rabu (6/8/2025).
Berusaha mencari uang untuk kebutuhan keluarga Mencari penghasilan demi menyokong keluarga Berjuang keras untuk memperoleh uang guna menunjang keluarga Bekerja keras demi menghidupi keluarga Berusaha mendapatkan uang agar bisa memberi kebutuhan pada keluarga
Karena situasi ekonomi yang buruk, Yusuf memutuskan untuk tetap bertahan demi kelangsungan hidup keluarganya.
"Kondisi seperti ini kami hanya bisa bertahan. Hari biasa saja jika tidak terjadi kebakaran, membawa uang Rp 20.000 saja sudah cukup, untuk kebutuhan keluarga," kata Yusuf.
Yusuf mengakui bahwa setidaknya ia perlu mendapatkan Rp 100.000 setiap hari agar dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih sekolah dan kuliah.
Ia beserta keluarganya seringkali hidup dengan makanan yang sedikit saja. Mi instan dianggap sebagai makanan mewah selain telur.
"Jika bukan itu, kadang-kadang hanya seadanya saja. Terkadang hanya menggunakan telur saja. Yang paling baik sudah memasak mi," jelasnya.
Meskipun usianya hampir menginjak 50 tahun, Yusuf tidak memiliki banyak peluang pekerjaan. Batas usia yang menjadi syarat perekrutan sering kali membuatnya kalah bersaing, sehingga berdagang menjadi satu-satunya alternatif yang tersisa baginya.
"Hal ini juga karena memang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam keluarga. Jika bekerja yang lain pasti kalah dengan yang lebih muda, termasuk pekerjaan kasar pun sudah kalah lebih dulu," ujarnya.
Pernyataan serupa disampaikan Medi (64), seorang penjual kacamata yang menjajakan dagangannya di sisi kiri pasar.
Medi mengakui tetap menjual kacamata karena itu adalah satu-satunya keahlian yang dimilikinya.
"Karena spesialisasinya memang sudah ada di kacamata sejak dulu," katanya.
Kacamata yang ditawarkan Medi memiliki harga berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per unit.
"Ya, paling tidak bisa laku satu saja kacamatanya dalam sehari," katanya dengan senyum pasrah.
Berbeda dengan Yusuf, anak-anak Medi telah bekerja sehingga ia tidak sendirian dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.
Tambahan dana hingga mencapai Rp 3 juta
Meski pasar Taman Puring telah sepi sebelum kejadian kebakaran, para pedagang tetap pulang membawa barang dagangan yang baru. Beberapa di antaranya bahkan harus meminjam uang agar dapat kembali berdagang.
Misalnya, Medi harus mengeluarkan sekitar Rp 3 juta untuk membeli persediaan kacamata terbaru dan peralatan dagang.
"Kurang lebih juga, paling tidak sekitar tiga juta rupiah. Kerugiannya jauh lebih besar lagi, saya tidak menghitungnya," kata Medi.
Di sisi lain, Yusuf menghadapi kesulitan keuangan yang lebih besar. Ia harus meminjam dana sebesar Rp 2 juta untuk membeli perlengkapan servis jam seperti baterai dan tali jam.
Karena keterbatasan anggaran, ia terpaksa menginap di tenda milik pedagang lain.
Barang baru saja seadanya. Paling untuk alat-alatservice, paling baterai, tali, begitu," kata Yusuf saat diwawancara terpisah.
Menurut Yusuf, keterbatasan dana inilah yang menghalangi sebagian pedagang untuk kembali membuka lapak di sekitar sisa bangunan pasar yang terbakar.
Morten (63), penjual sepatu, adalah salah satu korban. Ia mengalami kerugian hingga Rp500 juta akibat kebakaran dan belum bisa membuka toko kembali.
"Saya berdagang sepatu, tetapi saat ini belum ikut berjualan lagi karena tidak ada barang dan modalnya," katanya saat diwawancarai terpisah.
Para pedagang berharap pemerintah provinsi DKI Jakarta dapat memberikan bantuan dalam membangun pasar seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2002.
Diketahui, kebakaran melalap Pasar Taman Puring, Senin (28/7/2025). Api mulai muncul sekitar pukul 18.00 WIB dan akhirnya dapat dipadamkan pada pukul 01.30 WIB.
Akibat kejadian tersebut, lebih dari 500 warung di Pasar Taman Puring habis terbakar.
Sampai saat ini, pihak kepolisian masih belum dapat mengungkap penyebab terjadinya kebakaran di Pasar Taman Puring.
Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan di lokasi kejadian perkara (TKP) yang dilakukan oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri.
"Jadi kami sedang menantikan hari ini ketika ahli (Puslabfor) sedang bekerja, kami menunggu hasilnya apakah penyebab dari kebakaran tersebut apa," kata Nicolas kepada wartawan di Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025).
No comments:
Post a Comment