
DATA Badan Pusat Statistik (BPS) terkait dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh sebesar 5,12 persen pada kuartal II-2025 secara tahunan atauyear-on-year (yoy) memicu berbagai respons. Beberapa ahli ekonomi menganggap data tersebut menimbulkan pertanyaan.
Berikut beberapa hal yang mencurigakan yang diungkap oleh para ekonom:
Laporan Kuartal II Menunjukkan Angka yang Lebih Tinggi Dibanding Musim Lebaran
Kepala Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyatakan adanya ketidakwajaran dari pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang lebih besar dibandingkan kuartal I pada tahun yang sama. Padahal, berdasarkan data dari tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tertinggi biasanya terjadi saat momen Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.
"Hanya tumbuh 4,87 persen pada kuartal I-2025. Jadi cukup aneh jika pertumbuhan kuartal II mencapai 5,12 persen," ujar Nailul dalam pernyataan tertulis pada Selasa, 5 Agustus 2025.
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menentukan bahwa 1 Syawal 1446 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025. Oleh karena itu, Lebaran tahun 2025 berada dalam kuartal pertama.
Data Pertumbuhan Industri Pengolahan
Kedua, Celios menyoroti ketidakwajaran data pertumbuhan industri pengolahan. Berdasarkan data BPS, sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 5,68 persen (yoy) dan berkontribusi sekitar 1,13 persen terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Sementara itu, data indeks manajer pembelian ataupurchasing managers’ index (PMI) sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi atau berada di bawah angka 50 poin selama periode April-Juni 2025. "Ini berarti perusahaan tidak melakukan ekspansi yang signifikan," kata Nailul.
Menurutnya, kondisi sektor manufaktur sedang memburuk. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) selama bulan Januari hingga Juni 2025.
Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) antara Januari hingga Juni 2025 mencapai 42.385 orang. Angka ini meningkat sekitar 32,19 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 32.064 orang.
Data Konsumsi Rumah Tangga
Selanjutnya, Celios juga menyoroti pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 4,96 persen. Menurut data BPS, pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) berkontribusi sebesar 54,25 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Komponen PK-RT berkontribusi sebesar 2,64 persen terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Meskipun demikian, menurut Nailul, tidak ada momentum yang mendorong peningkatan signifikan dalam konsumsi rumah tangga.
Perbedaan antara data pertumbuhan ekonomi denganleading indicator, membuat saya pribadi meragukan data yang diumumkan oleh BPS,” kata Nailul.
Oleh karena itu, ia berharap BPS memberikan penjelasan yang mendetail mengenai metode yang digunakan, termasuk indeks yang digunakan untuk menghitung angka nilai tambah bruto sektoral dan pengeluaran.
Data Sektor Perdagangan Besar serta Grosir
Tidak hanya Celios, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga meragukan data pertumbuhan ekonomi yang dirilis oleh BPS. Salah satu poin yang diperhatikan oleh Indef adalah sektor perdagangan besar dan eceran yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,37 persen (yoy).
Berdasarkan konfirmasi yang diberikan Indef kepada pihak ritel dan asosiasi, pertumbuhan sektor perdagangan besar serta eceran pada kuartal kedua tidak terlihat begitu signifikan. Indef juga menyebutkan berbagai peristiwa yang belakangan ini memengaruhi industri ritel.
Bahkan fenomena Rojali (rombongan yang jarang membeli) dan Rohana (rombongan yang hanya bertanya) menjadi salah satu faktor yang mendorong perdagangan di industri tersebutretail tidak seperti tahun-tahun sebelumnya," ujar Kepala Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho dalam sebuah diskusi publik pada hari Rabu, 6 Agustus 2025.
Perkembangan Industri Penginapan dan Restoran Kemajuan Bidang Jasa Akomodasi serta Makanan dan Minuman Pertumbuhan Kegiatan Pariwisata dan Kuliner Perkembangan Sektor Hotel dan Restoran Tumbuhnya Bisnis Akomodasi serta Penyedia Makanan dan Minuman Perkembangan Industri Jasa Penginapan dan Kuliner Tren Pertumbuhan Sektor Akomodasi dan Fasilitas Makan Minum Kemajuan Ekonomi dari Sektor Penginapan dan Restoran Pertumbuhan Aktivitas Usaha Akomodasi dan Makan Minum Perkembangan Sektor Layanan Akomodasi serta Penyediaan Makanan dan Minuman
Selanjutnya, Indef mengkritik pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang meningkat pesat sebesar 8,04 persen. Padahal, menurut Indef, efisiensi yang dilakukan pemerintah dianggap sebagai penyebab perlambatan pertumbuhan di sektor tersebut.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto telah mengeluarkan perintah efisiensi di tingkat kementerian dan lembaga (K/L) serta pemerintah daerah (pemda) melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 terkait efisiensi pengeluaran dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025. Prabowo menargetkan penghematan anggaran sebesar Rp 306 triliun.
Data Pengadaan Aset Tetap Kotor (PMTB)
Kemudian, Indef juga menyampaikan mengenai investasi yang diukur melalui PMTB. Pertumbuhan komponen PMTB mencapai 6,99 persen per tahun.
Berdasarkan data pertumbuhan investasi pada kuartal II 2025 yang dirilis oleh Kementerian Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menurut Indef, terjadi peningkatan. Namun, peningkatannya tidak sebesar yang terjadi pada kuartal II tahun sebelumnya.
Pemerintah Menyangkal Adanya Pemalsuan Data
Menanggapi kecurigaan yang disampaikan oleh para ekonom, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyangkal dugaan adanya manipulasi data pertumbuhan ekonomi. “Di mana ada (manipulasi data),” kata Airlangga kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025.
Seorang mantan Ketua Umum Partai Golkar menyampaikan, berdasarkan data dari BPS, pengeluaran rumah tangga mengalami pertumbuhan yang tinggi sebesar 4,97 persen per tahun. Sementara itu, pengeluaran konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 54,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Selain itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat sebesar 6,99 persen. Airlangga juga menyoroti transaksi uang elektronik yang naik 6,26 persen dari tahun ke tahun, serta transaksimarketplace yang berkembang sebesar 7,5 persen secara kuartalan.
"Kemudian dari perjalanan akibat kebijakan yang kita buat, baik itu pesawat, kereta api, maupun jalan tol. Perjalanan wisatawan nusantara meningkat sebesar 22,3 persen," ujar Airlangga. Ia juga menyebutkan bahwa jumlah lapangan kerja yang tercipta antara Februari 2024 hingga Februari 2025 mendekati 3,6 juta.
Hal senada disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyatakan bahwa kemudahan dalam proses perizinan menjadi faktor utama di balik pertumbuhan investasi pada kuartal II-2025.
Salah satu komponen pengeluaran yang berkontribusi signifikan terhadap PDB adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mengalami pertumbuhan sebesar 6,99 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup besar dibandingkan kuartal I 2025 yang tumbuh sebesar 2,12 persen per tahun. PMTB memberikan kontribusi sebesar 27,83 persen terhadap PDB dan berkontribusi sebesar 2,06 persen terhadap pertumbuhan ekonomi total sebesar 5,12 persen.
Rosan menyampaikan, salah satu peraturan yang meningkatkan kemudahan investasi adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2025 mengenai Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. “PP ini memberikan kepastian dalam hal perizinan, karena melibatkan lebih dari 18 kementerian dan lembaga,” ujarnya dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi kuartal II 202 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Selasa, 5 Agustus 2025.
Anastasya Lavenia Yudi dan Ilona Estherina membantu dalam penulisan artikel ini.
No comments:
Post a Comment