Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Peluang Persija Jika JIS Dikelola Swasta

15.8.25, 6:07 AM WIB Last Updated 2025-08-16T15:05:13Z
Featured Image

Persija dan Tantangan Mengelola Jakarta International Stadium

Ketua Pemerhati Jakarta, Erzan, kembali mengangkat isu terkait pengelolaan Jakarta International Stadium (JIS). Ia menyoroti wacana yang muncul untuk membuka peluang pengelolaan stadion megah ini kepada pihak swasta. Menurutnya, JIS adalah aset penting yang dimiliki oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), sebuah BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Erzan menjelaskan bahwa dalam dunia sepak bola, pengelolaan stadion oleh klub bukanlah hal baru. Di Eropa, banyak klub besar memiliki kebijakan sendiri dalam mengelola stadion mereka. Mereka memanfaatkan fasilitas tersebut tidak hanya untuk pertandingan, tetapi juga untuk berbagai acara non-olahraga seperti konser, pameran, dan event lainnya. Hal ini memberikan pendapatan tambahan yang signifikan.

Menurut Erzan, secara legal, Persija memiliki kesempatan untuk mengelola JIS. Namun, realita finansial klub yang sedang tidak stabil membuat kemungkinan tersebut tampak sangat tipis. Berbeda dengan klub di Eropa yang memiliki dana kuat dan sponsor besar, Persija saat ini tengah menghadapi tantangan serius dalam hal keuangan.

Masalah finansial Persija mulai terlihat sejak musim lalu. Klub ini pernah mengalami keterlambatan pembayaran gaji pemain. Pelatih sementara Ricky Nelson mengakui adanya masalah internal setelah putaran kedua, khususnya terkait keterlambatan pembayaran gaji. Kritik juga datang dari Ketua The Jakmania, Dicky Budi Ramadhan, yang menyebut gaya belanja pemain tidak seimbang dengan kondisi keuangan klub. Bahkan, Asosiasi Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) mengonfirmasi bahwa beberapa pemain mengalami tunggakan gaji hingga dua atau tiga bulan.

Kondisi ini tidak hanya merusak hubungan antara klub dan pemain, tetapi juga mengurangi kepercayaan dari para pemangku kepentingan. Dalam industri sepak bola profesional, reputasi finansial yang buruk bisa menjadi penghalang besar dalam mendapatkan investasi dan kerja sama strategis. Ketidakpastian ini menimbulkan risiko besar jika Persija terus memaksakan diri untuk mengelola JIS.

Pada tahun ini, Gubernur DKI Jakarta turun tangan dengan membantu Persija melalui bantuan dari BUMD seperti PAM Jaya, Bank Jakarta, MRT Jakarta, Transjakarta, dan Jakpro. Jakpro, selaku pemilik aset JIS, memberikan keringanan biaya sewa dan memprioritaskan Persija dalam menggelar pertandingan kandang.

Erzan menekankan bahwa mengelola stadion sekelas JIS bukanlah pekerjaan mudah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentu tidak ingin aset bernilai triliunan rupiah itu jatuh ke tangan pengelola yang tidak siap. Jakpro akan memilih mitra yang mampu menjaga kualitas stadion, memastikan operasional berjalan lancar, dan memberikan kontribusi bagi daerah.

Dengan rekam jejak keuangan Persija yang saat ini masih labil, sulit untuk membayangkan klub ini mampu memenuhi semua prasyarat tersebut. Meskipun peluang bagi Persija ada, jarak antara peluang dan kenyataan sangat jauh. Persija mungkin akan terus menggunakan JIS sebagai markas kebanggaan, tetapi menjadi pengelola penuh stadion ini tampaknya masih sebatas mimpi. Mimpi yang membutuhkan modal besar, manajemen yang rapi, dan stabilitas finansial—tiga hal yang hingga kini belum benar-benar dimiliki oleh klub tersebut.

No comments:

Post a Comment

Iklan

iklan