
, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS)Donald Trumptelah mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan tarif impor sebesar 19% terhadap barang ekspor Indonesia. Di sisi lain, ekspor barang dari Amerika Serikat ke Indonesia akan dikenakan bea masuk nol persen atau tidak dikenakan tarif sama sekali.Lalu, bagaimana perkembangan kinerja ekspor Indonesia ke depan?
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan target pertumbuhan ekspor nasional sebesar 7,10% dengan besaran ekspor mencapai US$294,45 miliar pada tahun 2025.
Sementara itu, nilai ekspor Indonesia mencapai 23,44 miliar dolar AS pada bulan Juni 2025, meningkat sebesar 11,29% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang bernilai 21,06 miliar dolar AS.
Secara keseluruhan, jumlah nilai ekspor Indonesia mencapai 135,41 miliar dolar AS pada semester I/2025. Angka ini meningkat sebesar 7,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan total 125,73 miliar dolar AS.
Jika diuraikan lebih lanjut, nilai ekspor minyak dan gas alam mencapai 7,03 miliar dolar AS, turun sebesar 11,04% dibandingkan sebelumnya yang sebesar 7,9 miliar dolar AS. Di sisi lain, nilai ekspor nonmigas meningkat sebesar 8,96% dari 117,83 miliar dolar AS menjadi 128,39 miliar dolar AS.
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memprediksi kinerja ekspor Indonesia akan sedikit menurun setelah kebijakan tarif Trump diberlakukan.
"Peningkatan ekspor akan sedikit menurun, karena melemahnya permintaan masyarakat Amerika Serikat terhadap barang impor akibat kenaikan harga, hal ini dialami oleh seluruh eksportir," ujar Wijayanto kepadaBisnis, dikutip pada Rabu (6/8/2025).
Selain itu, Wijayanto menganggap ketidakpastian di dunia membuat konsumen dan investor menunda aktivitas transaksi. Akibatnya, situasi ini memengaruhi penurunan ekspor Indonesia pada tahun ini.Meski demikian, menurut Wijayanto, tarif sebesar 19% merupakan peluang yang baik bagi Indonesia.
Ia menyatakan, tarif ini lebih murah dibanding dua pesaing kami di pasar Amerika Serikat, yaitu Tiongkok dan India. Selain itu, tarif tersebut juga sama dengan pesaing lainnya, seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Namun, ia mengatakan pemerintah perlu memastikan beberapa hal dalam menghadapi kebijakan tarif Trump. Dalam hal ini, pemerintah harus memastikan bahwa semakin banyak produk Indonesia mendapatkan tarif di bawah 19%.
"Pemerintah juga harus memperluas pasar di luar Amerika Serikat, meningkatkan daya saing serta perbedaan produk. Selain itu, menjaga pasar Indonesia dari serbuan produk impor, baik yang legal maupun ilegal," katanya.
Dalam keterangannya terpisah, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, menganggap kinerja ekspor Indonesia masih didukung oleh Tiongkok sebagai negara tujuan ekspor utama.
Hal ini terlihat dari ekspor Indonesia ke Tiongkok yang mencapai 29,31 miliar dolar AS pada semester I/2025 atau berada di posisi pertama dalam pangsa pasar ekspor Indonesia, meskipun negara tersebut masih menjadi penyumbang defisit terbesar sepanjang Januari—Juni 2025.
"Menurut saya, kita tidak perlu merasa cemas mengenai hal ini karena seperti yang kita ketahui, Tiongkok masih merupakan negara yang cukup besar dalam meningkatkan ekspor kita," ujar Andry kepadaBisnis.
Menurutnya, berkat adanya tarif Trump, pemerintah perlu memperhatikan ekspor negara-negara yang bukan Amerika Serikat. Dengan demikian, ekspor Indonesia masih dapat meningkat, meskipun ekspor ke AS mengalami penurunan.Namun, ia menganggap penurunan ekspor ke Amerika Serikat baru akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang.
"Pada akhirnya, sebenarnya kami belum melihat bagaimana dampak 7 Agustus [dengan adanya tarif Trump], mungkin akan terasa pada September, Oktober mungkin baru terlihat," katanya.
Terlebih lagi, Andry menambahkan, tarif impor yang dikenakan Amerika Serikat di kawasan ASEAN relatif sama dengan Indonesia. Namun, menurutnya, konsumen Amerika Serikat akan semakin terbebani akibat adanya tarif ini.
"Mungkin yang paling terasa bukan di pihak eksportir, tetapi di pihak importir, yaitu konsumen Amerika Serikat," tambahnya.
Di sisi lain, Andry juga menyarankan pemerintah untuk melakukan perluasan pasar ekspor ke berbagai wilayah, termasuk Eropa. Hal ini karena menurutnya, masih terjadi perubahan kebijakan yang cukup signifikan dan sulit diprediksi dari pihak Trump.
"Jika Indonesia terlalu fokus beroperasi di pasar ekspor Amerika Serikat, maka keuntungan yang diperoleh oleh Indonesia justru tidak begitu besar," ujarnya.
Ia menilai, pemerintah seharusnya memperluas akses pasar di Eropa dengan memperkuat misi perdagangan dan mempermudah fasilitas perdagangan.
AS Penopang Surplus
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa pemerintah akan terus mengawasi pergerakan surplus Indonesia-Amerika Serikat (AS) setelah penerapantarif resiprokal 19%.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan pemerintah akan terus mengawasi perkembangan surplus antara Indonesia dan Amerika Serikat.Karena Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan kontribusi surplus terbesar pada semester I/2025, yaitu sebesar US$9,92 miliar.
“Jika kita melihat mitra dagang kita atau surplus terbesar berasal dari Amerika, yang memberikan kontribusi surplus tertinggi hingga semester I [2025] sebesar US$9,92 miliar,” kata Budi dalam konferensi pers Kinerja Ekspor Semester I/2025 di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (4/8/2025).
Menurut Budi, surplus terbesar dari Negara Paman Sam menunjukkan bahwa produk lokal mampu bersaing meskipun tarif balas jasa belum diberlakukan.
"Ini merupakan tanda bahwa produk-produk Indonesia masih memiliki daya saing meskipun aturan resiprokal belum diberlakukan," tambahnya.
Namun, Budi menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mengawasi kelebihan neraca perdagangan Indonesia dengan AS di masa depan. Selain itu, Kementerian Perdagangan tetap akan meningkatkan ekspor saat tarif balasan tersebut berlaku.
“Jadi nanti kita akan monitorterus [surplus perdagangan RI—AS] dan kita pasti akan berusaha setelah diberlakukannya tarif balasan, ekspor kita tetap terus meningkat," katanya.
Selain Amerika Serikat, Budi menyebutkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia pada semester I/2025 juga berasal dari India sebesar US$6,64 miliar, Filipina sebesar US$4,36 miliar, Malaysia sebesar US$3,07 miliar, dan Vietnam sebesar US$2,21 miliar.
Selain itu, berdasarkan data dari negara-negara di kawasan, Budi menyampaikan bahwa surplus perdagangan Indonesia berasal dari kawasan ASEAN sebesar US$9,59 miliar. Diikuti oleh Uni Eropa dan EAEU masing-masing dengan surplus sebesar US$3,79 miliar dan US$0,007 miliar pada semester pertama tahun 2025.
No comments:
Post a Comment